Category Archives: Berita Kecerdasan Buatan (AI)

https://mezzojane.com

Microsoft Percepat Langkah di AI, Siap Saingi OpenAI dengan Model Sendiri

Microsoft semakin agresif dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) demi bersaing dengan OpenAI, mitra jangka panjangnya. Perusahaan ini tengah merancang model AI canggih untuk mendukung produk seperti chatbot Copilot serta mencari alternatif teknologi AI yang lebih mandiri. Menurut laporan dari Tech Crunch, Microsoft telah menciptakan model AI penalaran yang mampu menandingi model OpenAI seperti o1 dan o3-mini. Ketegangan antara kedua perusahaan meningkat setelah OpenAI menolak permintaan Microsoft untuk memperoleh detail teknis mengenai cara kerja model o1.

Selain itu, Bloomberg mengungkapkan bahwa Microsoft telah mengembangkan serangkaian model AI bernama MAI yang diyakini mampu bersaing dengan teknologi OpenAI. Perusahaan ini bahkan mempertimbangkan untuk menyediakan model tersebut melalui API pada akhir tahun. Secara bersamaan, Microsoft juga sedang menguji berbagai alternatif AI dari xAI, Meta, Anthropic, dan DeepSeek untuk dijadikan opsi pengganti OpenAI dalam teknologi Copilot. Meskipun telah menginvestasikan sekitar 14 miliar dolar AS (Rp228,1 triliun) di OpenAI, Microsoft tetap berusaha memperluas strategi pengembangannya. Salah satu langkahnya adalah dengan merekrut Mustafa Suleyman, salah satu pendiri DeepMind dan Inflection, untuk memimpin divisi pengembangan AI.

Untuk mendukung ambisi AI-nya, Microsoft telah mengalokasikan 80 miliar dolar AS (sekitar Rp1,3 kuadriliun) dalam anggaran fiskal 2025 guna membangun pusat data khusus AI. Infrastruktur ini dirancang untuk melatih model AI serta mendukung berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan dan layanan cloud di seluruh dunia. Menurut Brad Smith, Wakil Ketua dan Presiden Microsoft, lebih dari setengah dari anggaran tersebut akan digunakan di Amerika Serikat. Dalam sebuah pernyataan, Smith menegaskan bahwa AI akan menjadi teknologi transformasional yang mendorong inovasi serta meningkatkan produktivitas di berbagai sektor ekonomi di masa depan.

Membongkar “Data Wall”: Tantangan di Balik Demokratisasi AI

Dalam perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat, muncul tantangan besar yang dikenal sebagai “data wall”—penghalang akses terhadap data berkualitas yang hanya dikuasai oleh segelintir pihak. Fenomena ini semakin relevan seiring dengan tren distilasi AI yang bertujuan menciptakan model lebih efisien, tetapi tetap membutuhkan data berkualitas tinggi yang dikuasai oleh raksasa teknologi seperti Google, Meta, dan Microsoft. Konsentrasi kepemilikan data ini menciptakan ketimpangan yang menghambat inovasi bagi pengembang independen, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, pembatasan lisensi data oleh platform digital semakin memperkuat eksklusivitas akses, membentuk dinding hukum yang menghambat penelitian AI terbuka.

Indonesia menghadapi tantangan tambahan dalam bentuk infrastruktur data yang masih tertinggal, mengakibatkan keterbatasan dalam pengumpulan dan pengolahan data berkualitas tinggi. Ketimpangan ini semakin diperparah oleh dominasi model AI yang dilatih dengan data berbahasa Inggris, menyebabkan performa yang lemah dalam memahami bahasa Indonesia dan bahasa daerah lainnya. Jika tidak diatasi, situasi ini dapat memperkuat ketergantungan pada teknologi asing dan menciptakan bentuk baru kolonialisme digital, di mana Indonesia hanya menjadi penyedia data tanpa menikmati manfaat ekonomi yang setimpal.

Menghadapi tantangan ini, Indonesia perlu mengembangkan kebijakan data nasional yang mendorong keterbukaan data untuk penelitian AI, membangun infrastruktur data yang lebih baik, serta memperkuat regulasi agar manfaat ekonomi dari data digital tidak hanya dinikmati oleh perusahaan asing. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas diperlukan untuk menciptakan ekosistem AI yang inklusif. Langkah ini penting agar Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pemain aktif dalam revolusi AI global.

Masa Depan Pendidikan: Menyiapkan Generasi Melek AI dan Coding

Penerapan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) memerlukan kesiapan sekolah dan tenaga pengajar. Tidak semua sekolah memiliki perangkat digital yang memadai, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yang juga menghadapi kendala dalam akses internet. Oleh karena itu, kesiapan guru menjadi faktor penting dalam implementasi kurikulum ini. Sejumlah tenaga pengajar akan dipersiapkan untuk mengajarkan coding dan AI melalui kerja sama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Pelita Harapan (UPH). Keterbatasan sarana tidak boleh menjadi penghalang bagi kemajuan pendidikan yang selaras dengan tuntutan zaman dan kebutuhan generasi masa depan.

Menurut Mu’ti, ada dua bentuk kerja sama yang akan dilakukan dengan perguruan tinggi dalam mempersiapkan pengajar coding dan AI. Pertama, pelatihan singkat bagi guru yang ditunjuk untuk mengampu mata pelajaran tersebut. Kedua, memberikan kesempatan bagi lulusan SMA untuk melanjutkan pendidikan di jurusan AI. Guru yang terpilih akan mendapatkan pelatihan sebelum diterjunkan ke sekolah-sekolah yang telah siap menerapkan pembelajaran ini. Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa penguasaan AI tidak hanya sekadar memahami teknologinya, tetapi juga bagaimana menerapkannya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. AI telah hadir dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan, ekonomi, dan pemerintahan, sehingga penting untuk mempercepat transformasi digital melalui regulasi, infrastruktur, SDM, data, serta standar kompetensi yang sesuai.

Dalam mendukung pengembangan AI di Indonesia, UPH resmi membuka Fakultas AI, yang bertujuan mencetak talenta unggul di bidang ini. Rektor UPH, Jonathan L. Parapak, menyebutkan bahwa AI menjadi salah satu perkembangan teknologi digital yang sangat penting di dunia saat ini, sehingga pihaknya bekerja sama dengan Zhejiang University, China, untuk memastikan implementasi pembelajaran AI yang optimal. Dekan Faculty of Artificial Intelligence UPH, Rizaldi Sistiabudi, menambahkan bahwa AI tidak diciptakan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk meningkatkan kapasitas mereka. Oleh sebab itu, generasi mendatang harus disiapkan agar memiliki literasi AI dan kecakapan dalam memanfaatkan teknologi ini secara optimal.

Perkembangan Teknologi: AI, 5G, dan Komputasi Kuantum Ubah Dunia

Kemajuan teknologi yang terus melaju pesat telah membawa dampak besar bagi kehidupan manusia. Inovasi seperti kecerdasan buatan (AI), jaringan 5G, dan komputasi kuantum menjadi pilar utama dalam transformasi digital. Perkembangan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi juga membuka peluang baru di berbagai industri.

Kecerdasan Buatan (AI) Mengubah Berbagai Sektor

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin canggih dan diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk otomatisasi, analisis data, hingga interaksi manusia dengan mesin. AI telah merambah sektor kesehatan, keuangan, manufaktur, serta transportasi, memberikan efisiensi dan akurasi yang lebih tinggi.

Di dunia medis, pemanfaatan AI memungkinkan diagnosis penyakit lebih cepat dan akurat, bahkan mampu membantu dokter dalam merancang metode pengobatan yang lebih efektif. Sementara itu, dalam dunia industri, AI berperan dalam mengoptimalkan proses produksi, mengurangi kesalahan manusia, serta meningkatkan efisiensi operasional.

Tidak hanya itu, chatbot berbasis AI dan asisten virtual seperti ChatGPT telah mengubah cara manusia berkomunikasi serta mengakses informasi. Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk memberikan layanan pelanggan yang lebih cepat, responsif, dan efisien.

Jaringan 5G Meningkatkan Konektivitas Global

Jaringan 5G mulai diterapkan di banyak negara dan membawa revolusi dalam kecepatan internet serta komunikasi data. Dengan latensi rendah dan kecepatan transfer data yang luar biasa, teknologi ini mendukung berbagai inovasi, mulai dari kendaraan otonom, smart city, hingga pengembangan Internet of Things (IoT).

Dalam dunia industri, 5G memungkinkan otomatisasi berbasis IoT yang meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Di sektor hiburan, pengalaman streaming dan gaming menjadi lebih lancar serta interaktif, memberikan kenyamanan lebih bagi pengguna.

Selain itu, dalam bidang kesehatan, jaringan 5G memungkinkan pengembangan telemedicine yang lebih efektif. Bahkan, operasi jarak jauh kini menjadi lebih akurat berkat kecepatan transfer data yang tinggi.

Komputasi Kuantum: Era Baru dalam Pemrosesan Data

Komputasi kuantum menjadi inovasi mutakhir yang dapat merevolusi pengolahan data. Berbeda dengan komputer konvensional, sistem ini menggunakan bit kuantum (qubit) yang memiliki kemampuan pemrosesan jauh lebih cepat. Dengan teknologi ini, masalah yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan dapat dirampungkan dalam hitungan detik.

Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Google, IBM, dan Microsoft sedang berlomba mengembangkan komputer kuantum untuk berbagai aplikasi, termasuk kriptografi, riset farmasi, hingga simulasi perubahan iklim.

Walaupun masih dalam tahap pengembangan, banyak pakar meyakini bahwa komputasi kuantum akan membawa lompatan besar dalam dunia teknologi, terutama dalam bidang keamanan siber, penelitian ilmiah, serta pemrosesan data dalam skala besar.

Kesimpulan

Teknologi terus berkembang dengan pesat, menghadirkan inovasi yang mengubah berbagai aspek kehidupan. AI, 5G, dan komputasi kuantum menjadi tiga inovasi utama yang mendorong revolusi digital di berbagai sektor.

Seiring perkembangan yang tak terbendung, masa depan diprediksi akan semakin canggih dan efisien. Teknologi ini tidak hanya mempermudah kehidupan manusia, tetapi juga membuka peluang baru yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai industri di seluruh dunia.

Realme Hadirkan Inovasi Lensa Interchangeable di MWC 2025

Ajang Mobile World Congress (MWC) 2025 menjadi panggung bagi para produsen smartphone untuk memamerkan inovasi terbaru mereka, termasuk Realme yang memperkenalkan konsep lensa interchangeable. Dalam keterangan resminya, Realme mengungkapkan teknologi revolusioner ini berupa smartphone dengan sistem mounting yang memungkinkan penggantian lensa kamera layaknya kamera DSLR.

Konsep ini menghadirkan sensor Sony berukuran 1 inci yang terintegrasi dengan mounting tersebut, memungkinkan pengguna memasang lensa profesional langsung ke perangkat smartphone mereka. Realme juga menawarkan dua lensa unggulan, yakni portrait 73mm dan telephoto 234mm, yang memberikan kejernihan optik luar biasa di ranah fotografi mobile. Meskipun masih berupa konsep dan belum diproduksi massal, Realme menegaskan bahwa inovasi ini merupakan bentuk komitmen mereka dalam menghadirkan solusi terhadap tantangan industri, seperti keterbatasan ukuran sensor dan keterbatasan zoom digital.

Selain sistem lensa modular, Realme juga memperkenalkan teknologi pencitraan berbasis AI yang mempermudah pengguna dalam mengedit foto dan video. Salah satunya adalah AI Voice-based Retoucher, yang memungkinkan pengguna mengedit gambar hanya dengan perintah suara, seperti “Hapus background” atau “Ubah langit jadi sunset.” Tak hanya itu, fitur AI Video Eraser juga turut diperkenalkan, memungkinkan pengguna menghapus objek atau orang yang tidak diinginkan dalam video hanya dengan satu ketukan. Dengan teknologi inovatif ini, Realme semakin menunjukkan langkah progresif dalam menghadirkan pengalaman fotografi mobile yang lebih canggih dan fleksibel.

Meta Siapkan Aplikasi Mandiri untuk Chatbot AI Guna Bersaing di Pasar Global

Meta dikabarkan tengah mempersiapkan peluncuran aplikasi mandiri bagi asisten kecerdasan buatan mereka, Meta AI. Sejak diperkenalkan pada 2023, Meta AI telah terintegrasi di berbagai platform media sosial milik Meta, seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Namun, perusahaan kini berencana menghadirkan versi aplikasi mandiri guna bersaing dengan layanan serupa seperti ChatGPT dan Gemini.

Berdasarkan laporan CNBC, seorang sumber yang mengetahui rencana ini mengungkapkan bahwa Meta AI dalam bentuk aplikasi mandiri diperkirakan akan dirilis pada kuartal kedua tahun ini. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar CEO Meta, Mark Zuckerberg, untuk membawa perusahaannya menjadi pemimpin dalam pengembangan kecerdasan buatan.

Chatbot Meta AI pertama kali dirilis pada September 2023 sebagai asisten digital berbasis AI generatif yang dapat merespons berbagai permintaan pengguna, termasuk pembuatan gambar dan pencarian informasi. Pada April lalu, Meta semakin mendorong penggunaan teknologi ini dengan menggantikan fitur pencarian di Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger dengan Meta AI.

Saat ini, Meta AI telah mencapai sekitar 700 juta pengguna aktif bulanan, meningkat dari 600 juta pada Desember lalu. Meski demikian, para analis menilai sulitnya membandingkan pengguna Meta AI dengan pesaingnya seperti ChatGPT karena belum tersedia sebagai aplikasi individu. Editor data Business of Apps, David Curry, menyebut bahwa situs web mandiri Meta AI hanya memperoleh kurang dari 10 juta tampilan per bulan, angka yang masih jauh tertinggal dibandingkan layanan AI utama lainnya.

Amazon Perkenalkan Alexa+ sebagai Asisten Virtual yang Lebih Cerdas

Amazon resmi meluncurkan versi terbaru dari asisten virtualnya, Alexa+, yang diklaim memiliki kecerdasan lebih tinggi dan kemampuan yang lebih baik dalam menangani berbagai tugas. Namun, dalam acara peluncuran yang berlangsung di New York pada Rabu, Amazon tidak memperkenalkan perangkat Echo baru untuk mendukung teknologi ini.

Panos Panay, Kepala Divisi Perangkat dan Layanan Amazon, mengisyaratkan bahwa perusahaan tengah mengembangkan berbagai perangkat berbasis kecerdasan buatan yang akan hadir di masa depan. Pernyataannya muncul di tengah persaingan ketat dalam industri teknologi, di mana perusahaan seperti Apple dan Microsoft terus memperbarui teknologi AI mereka. Apple baru saja meluncurkan fitur Apple Intelligence di lini iPhone 16, sementara Microsoft menjadikan Copilot sebagai fitur utama dalam sistem operasi Windows.

Amazon sendiri telah memiliki berbagai perangkat pintar, mulai dari speaker pintar Echo hingga kamera keamanan Ring dan router Eero. Kini, Alexa+ mulai diintegrasikan dengan beberapa perangkat tersebut, memungkinkan pengguna mendapatkan informasi dari rekaman kamera Ring saat mereka tidak berada di rumah.

Salah satu inovasi AI yang sedang berkembang adalah kacamata pintar, yang menggabungkan asisten virtual dengan pengenalan suara dan gambar. Meta telah berhasil dengan kacamata Ray-Ban yang mampu menerjemahkan bahasa dan memberikan informasi visual kepada penggunanya, dengan lebih dari dua juta unit terjual sejak peluncurannya pada 2023. Amazon sebelumnya telah merilis Echo Frames, kacamata pintar berbasis Alexa, namun tanpa kamera dan fitur AI yang lebih canggih, perangkat ini belum mampu bersaing di pasar.

Panay tidak memberikan detail spesifik mengenai perangkat AI baru yang sedang dikembangkan Amazon, tetapi menegaskan bahwa perusahaan sedang membangun ekosistem perangkat yang lebih terhubung. Dengan berkembangnya teknologi AI dan semakin banyak perusahaan yang mengadopsinya, inovasi yang akan datang dari Amazon patut dinantikan.

OpenAI Siapkan Integrasi Sora ke ChatGPT, Hadirkan AI Video Lebih Canggih

OpenAI tengah merencanakan integrasi teknologi video AI bernama Sora ke dalam chatbot ChatGPT. Saat ini, Sora hanya tersedia melalui aplikasi web khusus yang diluncurkan pada Desember 2024, memungkinkan pengguna menciptakan klip sinematik berdurasi hingga 20 detik.

Menurut Rohan Sahai, pimpinan produk Sora, OpenAI berencana menghadirkan teknologi ini ke lebih banyak platform dengan peningkatan kemampuan yang lebih luas. Awalnya, Sora ditargetkan untuk kreator konten dan studio produksi, namun kini OpenAI ingin menarik minat lebih banyak pengguna untuk memanfaatkan alat berbasis AI tersebut.

Integrasi Sora ke ChatGPT masih dalam tahap pengembangan, dan belum ada kepastian kapan fitur ini akan tersedia. Versi Sora di ChatGPT kemungkinan memiliki keterbatasan dibanding aplikasi web, terutama dalam hal pengeditan dan penyusunan video. OpenAI sengaja meluncurkan Sora secara terpisah agar ChatGPT tetap sederhana dan mudah digunakan.

Selain itu, OpenAI berencana mengembangkan aplikasi seluler mandiri untuk Sora. Saat ini, perusahaan sedang mencari tenaga ahli dalam bidang pengembangan aplikasi untuk merealisasikan proyek tersebut. OpenAI juga berupaya meningkatkan kapabilitas Sora dalam menghasilkan gambar berbasis AI, yang berpotensi menghadirkan hasil lebih fotorealistik dibanding model DALL-E 3 yang telah terintegrasi dengan ChatGPT.

Di sisi lain, OpenAI sedang mengembangkan versi terbaru dari Sora Turbo, model AI yang saat ini digunakan dalam aplikasi web Sora. Langkah ini menunjukkan ambisi OpenAI dalam mengembangkan teknologi AI yang semakin inovatif dan mendekati kualitas sinematik profesional.

Alibaba Cloud Buka Akses Open-Source untuk AI Video Generator Seri Wan2.1

Alibaba Cloud secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah merilis akses open-source untuk model kecerdasan buatan penghasil video sebagai bagian dari inisiatif terbaru dalam mendukung komunitas teknologi terbuka. Dalam pernyataan resminya pada Rabu, perusahaan ini mengungkapkan bahwa empat model terbaru dari seri Wan2.1, yaitu T2V-14B, T2V-1.3B, I2V-14B-720P, dan I2V-14B-480P, kini dapat diakses oleh akademisi, peneliti, serta institusi komersial secara global. Model ini merupakan pengembangan dari Tongyi Wanxiang dan memiliki parameter sebesar 14 miliar serta 1,3 miliar, yang dirancang untuk menghasilkan gambar dan video berkualitas tinggi dari teks maupun gambar.

Seri Wan2.1 menjadi model AI pertama yang mendukung efek teks dalam bahasa Mandarin dan Inggris, serta unggul dalam menciptakan visual realistis dengan ketajaman piksel yang lebih baik, gerakan dinamis yang lebih alami, serta akurasi dalam mengeksekusi instruksi. Berkat kemampuan tersebut, model ini berhasil menempati peringkat teratas di VBench leaderboard, sebuah tolok ukur utama bagi AI pembuat konten video, serta menjadi satu-satunya model open-source yang masuk dalam lima besar di Hugging Face.

Model-model ini kini tersedia di platform Model Scope serta Hugging Face, memungkinkan lebih banyak pengembang dan perusahaan untuk menciptakan konten video berkualitas tinggi dengan biaya lebih efisien. Model T2V-14B cocok untuk menghasilkan visual dengan gerakan kompleks, sementara T2V-1.3B menawarkan keseimbangan antara kualitas dan efisiensi daya komputasi, memungkinkan pembuatan video 480p berdurasi 5 detik hanya dalam 4 menit menggunakan laptop standar. Selain itu, model I2V-14B-720P dan I2V-14B-480P juga mendukung konversi gambar menjadi video, memberikan lebih banyak fleksibilitas bagi pengguna dalam menghasilkan konten visual.

Sebagai pionir dalam teknologi AI open-source, Alibaba Cloud telah lebih dulu merilis model Qwen pada 2023, yang kini menjadi salah satu model paling banyak digunakan dengan lebih dari 100.000 versi turunan di Hugging Face. Dengan langkah terbaru ini, Alibaba Cloud semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam inovasi AI global.

Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot Tangan dengan Jaringan Hidup!

Sejumlah ilmuwan dari Universitas Tokyo dan Universitas Waseda berhasil menciptakan sebuah inovasi luar biasa di dunia robotika. Mereka mengembangkan robot tangan biohibrida yang dirancang untuk diaplikasikan pada tangan prostetik bagi individu dengan amputasi. Robot ini tidak hanya memiliki lima jari yang dapat bergerak secara alami, tetapi juga menggunakan jaringan otot hidup sehingga dapat melakukan gerakan yang lebih presisi dibandingkan dengan teknologi prostetik sebelumnya.

Keunggulan Robot Tangan Biohibrida

Robot tangan ini memiliki panjang sekitar 18 sentimeter, mencakup bagian lengan bawah, dan dilengkapi dengan sistem sendi yang memungkinkan setiap jari bergerak secara independen. Teknologi ini membuatnya mampu melakukan gerakan kompleks, seperti menggenggam benda kecil, mengangkat objek rapuh, hingga melakukan tugas yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Dibandingkan dengan teknologi biohibrida sebelumnya yang umumnya hanya memiliki satu sendi dengan ukuran kecil, inovasi ini jauh lebih canggih. Tim peneliti mengatasi keterbatasan tersebut dengan menggabungkan beberapa jaringan otot tipis ke dalam struktur gulungan, yang kemudian berfungsi sebagai satu otot utuh. Dengan desain ini, robot tangan dapat bergerak dengan kekuatan yang lebih optimal, mendekati pergerakan tangan manusia.

Salah satu keunggulan utama dari teknologi ini adalah penggunaan jaringan otot hidup yang dapat berkontraksi dan meregang, memungkinkan gerakan yang lebih alami serta memiliki kemampuan pemulihan dalam batas tertentu. Artinya, robot tangan ini tidak hanya lebih fleksibel tetapi juga lebih tahan lama dibandingkan dengan prostetik konvensional.

Potensi Aplikasi Robot Tangan Biohibrida

Teknologi robot tangan biohibrida ini berpotensi membawa dampak besar di berbagai bidang. Berikut adalah beberapa penerapannya:

1. Tangan Prostetik yang Lebih Adaptif

Robot tangan ini dikembangkan untuk membantu individu yang mengalami amputasi. Dengan tingkat integrasi yang lebih baik dengan tubuh manusia, tangan prostetik berbasis biohibrida ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan serta kontrol yang lebih presisi bagi penggunanya.

2. Alat Bantu dalam Prosedur Medis

Dikutip dari Universitas Tokyo, jaringan otot dalam robot tangan ini mampu merespons sinyal listrik dengan waktu reaksi yang sangat cepat, bahkan lebih baik dibandingkan aktuator mekanis konvensional. Kemampuan ini menjadikannya sangat cocok untuk digunakan dalam prosedur medis, terutama dalam operasi mikro yang memerlukan ketelitian ekstrem, seperti prosedur pada pembuluh darah atau jaringan saraf.

3. Robot dengan Sensasi Sentuhan Alami

Keunggulan lainnya adalah kemampuannya dalam meniru sentuhan dan kekuatan genggaman manusia. Teknologi jaringan otot yang digunakan memungkinkan robot ini untuk menyesuaikan tekanan saat memegang suatu objek, sehingga tidak mudah merusak benda yang rapuh. Meski demikian, masih ada tantangan dalam desainnya, yakni jari-jari robot ini belum dapat kembali ke posisi awal dengan sempurna. Para peneliti berencana untuk mengembangkan material elastis yang dapat membantu mengembalikan jari ke posisi semula dengan lebih cepat.

Masa Depan Robotika Biohibrida

Menurut Shoji Takeuchi, profesor dari Universitas Tokyo, pencapaian ini merupakan langkah besar dalam pengembangan robot biohibrida yang semakin mendekati sistem biologis manusia. Ia menekankan bahwa tujuan utama dari robotika biohibrida adalah meniru gerakan alami tubuh manusia dalam skala yang lebih besar, dan penelitian mereka saat ini menjadi salah satu tonggak penting dalam mewujudkan hal tersebut.

Seiring dengan kemajuan teknologi, bukan tidak mungkin robot tangan biohibrida ini akan semakin disempurnakan dan diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Dari dunia medis hingga industri, inovasi ini membuka peluang baru dalam menciptakan robot yang lebih responsif dan lebih mirip dengan manusia.