Tag Archives: Dunia Digital

https://mezzojane.com

Internet of Things (IoT): Revolusi Teknologi yang Menghubungkan Segalanya

Internet of Things (IoT) adalah konsep di mana berbagai perangkat fisik dapat saling terhubung melalui internet untuk bertukar data secara otomatis. Dengan bantuan sensor, perangkat lunak, dan jaringan, IoT memungkinkan berbagai perangkat, mulai dari smartphone, kamera, mesin industri, hingga peralatan rumah tangga, bekerja secara cerdas dan efisien.

Contohnya, sistem pencahayaan rumah yang bisa menyala otomatis saat mendeteksi kehadiran seseorang, atau sistem pengairan tanaman yang dapat dikendalikan dari jarak jauh melalui aplikasi. Teknologi ini semakin berkembang dan membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan.

Mengapa IoT Menjadi Teknologi yang Penting?

IoT memberikan banyak manfaat yang berkontribusi dalam meningkatkan efisiensi dan kemudahan hidup, baik di dunia industri maupun kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa alasan mengapa IoT menjadi teknologi yang sangat berpengaruh:

  1. Efisiensi Operasional
    IoT membantu perusahaan dalam mengotomatiskan berbagai proses, mengurangi biaya operasional, serta meningkatkan produktivitas.
  2. Keputusan Berbasis Data
    Dengan data yang dikumpulkan dari perangkat IoT, organisasi dapat mengambil keputusan yang lebih akurat dan efektif berdasarkan analisis yang dilakukan.
  3. Kemudahan dan Kenyamanan
    Dalam kehidupan sehari-hari, IoT memberikan kemudahan, seperti mengontrol suhu ruangan dari jarak jauh menggunakan smartphone atau mengelola keamanan rumah dengan sistem smart lock.
  4. Transformasi Bisnis
    IoT membuka peluang inovasi dalam berbagai sektor, mulai dari kendaraan otonom, smart city, hingga industri kesehatan yang lebih terintegrasi.

Mata Kuliah Internet of Things di Telkom University Surabaya

Di era digital ini, pemahaman tentang IoT menjadi keterampilan yang sangat dicari. Oleh karena itu, Telkom University Surabaya menghadirkan mata kuliah IoT dalam program studi Teknik Elektro untuk membekali mahasiswa dengan keahlian yang relevan di dunia industri.

Beberapa materi yang dipelajari dalam mata kuliah ini meliputi:

  • Dasar-Dasar IoT
    Mengenal konsep dan elemen utama dalam sistem IoT, seperti sensor, aktuator, dan protokol komunikasi.
  • Pemrograman Perangkat IoT
    Belajar mengembangkan aplikasi dan perangkat lunak yang digunakan dalam sistem IoT.
  • Sistem Embedded
    Merancang dan mengembangkan perangkat keras yang mendukung teknologi IoT.
  • Analisis Data IoT
    Mengolah data yang diperoleh dari perangkat IoT untuk mendapatkan wawasan yang bermanfaat.
  • Keamanan IoT
    Mempelajari cara melindungi sistem IoT dari ancaman keamanan siber yang semakin kompleks.

Peluang Karir di Bidang IoT

Dengan semakin luasnya penerapan IoT di berbagai industri, peluang karir di bidang ini sangat menjanjikan. Beberapa profesi yang berkaitan dengan IoT di antaranya:

  • IoT Developer – Mengembangkan perangkat lunak dan aplikasi IoT.
  • System Engineer – Merancang dan mengelola sistem IoT di berbagai industri.
  • Data Analyst – Menganalisis data besar (big data) yang dihasilkan oleh perangkat IoT.
  • Cybersecurity Specialist – Mengamankan sistem dan jaringan IoT dari ancaman digital.
  • Product Manager IoT – Mengelola pengembangan produk berbasis IoT di perusahaan teknologi.

Bergabung dengan Revolusi IoT di Telkom University Surabaya

Sebagai salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia, Telkom University Surabaya menghadirkan kurikulum Teknik Elektro yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan teknologi terkini, termasuk di bidang Internet of Things.

Dengan dukungan fasilitas praktikum yang lengkap serta kolaborasi dengan industri, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang komprehensif dan siap bersaing di dunia kerja.

Jangan sampai ketinggalan untuk bergabung dalam transformasi digital ini! Segera daftar dan jadilah bagian dari generasi penerus inovasi di dunia teknologi IoT. Untuk info lebih lanjut, kunjungi situs resmi Teknik Elektro Telkom University Surabaya. 🚀

Pengaruh AI pada Otak Manusia: Apakah Kita Jadi Makin Pintar atau Malas Berpikir?

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin meluas di dunia kerja dapat membawa dampak positif, namun sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa kecanduan terhadap teknologi ini ternyata bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Microsoft bekerja sama dengan Carnegie Mellon University mengungkapkan bahwa terlalu sering mengandalkan AI dalam menyelesaikan tugas-tugas profesional dapat berisiko membuat otak menjadi “tumpul.”

Penelitian ini melibatkan 319 pekerja yang sehari-harinya berhubungan dengan pengolahan data dan informasi. Para peneliti meminta peserta untuk memberikan laporan mengenai bagaimana mereka memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka, mulai dari tingkat kepercayaan terhadap hasil yang diberikan AI, cara mereka mengevaluasi jawaban AI, hingga keyakinan mereka untuk menyelesaikan tugas tanpa bantuan AI.

Hasil riset menunjukkan pola menarik. Pertama, para pekerja yang semakin mempercayai kemampuan AI justru semakin jarang mengevaluasi atau mengawasi hasil jawaban dari AI tersebut. Hal ini terutama terlihat pada tugas-tugas yang dianggap mudah atau berisiko rendah. Banyak pekerja yang merasa bahwa menggunakan AI adalah cara yang efisien dan menganggap bahwa AI sudah cukup mampu menyelesaikan tugas tersebut. Beberapa di antara mereka bahkan merasa bahwa memanfaatkan AI dengan optimal adalah bagian dari keterampilan berpikir kritis mereka.

Namun, para peneliti memberi peringatan bahwa kebiasaan ini, meskipun tampak tidak berbahaya, dapat berakibat buruk dalam jangka panjang. Ketergantungan yang berlebihan pada AI dapat mengurangi kemampuan pekerja untuk menyelesaikan masalah secara mandiri dan memperlemah keterampilan berpikir kritis mereka. Dalam kata lain, penggunaan AI tanpa disertai evaluasi atau pertimbangan diri bisa membuat otak manusia “tumpul,” karena otak tidak lagi dilatih untuk berpikir secara mandiri.

Di sisi lain, ketika para pekerja merasa kurang yakin dengan hasil yang diberikan AI, mereka justru lebih sering melatih keterampilan berpikir kritis mereka. Pekerja yang merasa perlu memeriksa dan memperbaiki hasil AI secara aktif cenderung lebih percaya diri dalam menyelesaikan masalah secara mandiri.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa AI cenderung memberikan jawaban yang konsisten dan homogen, karena teknologi ini bekerja berdasarkan data yang telah dilatih sebelumnya. AI tidak dapat menciptakan ide-ide baru secara bebas, dan jika terlalu sering digunakan tanpa tambahan input manusia, hasil yang diberikan cenderung seragam. Hal ini bisa menyebabkan kurangnya kreativitas dan pemikiran baru, yang merupakan inti dari keterampilan berpikir kritis.

Sebagai kesimpulan, meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi kerja, riset ini mengingatkan kita bahwa penggunaannya yang berlebihan tanpa pemikiran kritis dapat mengurangi kemampuan untuk berpikir secara mandiri dan kreatif. Oleh karena itu, penting bagi pekerja untuk tetap mempertahankan keterampilan berpikir kritis mereka meskipun memanfaatkan kemajuan teknologi.

Indonesia di Ujung Digital: Apakah Kita Siap Menyambut Era Baru Teknologi?

Perkembangan teknologi terus melaju dengan pesat, membuka peluang baru di berbagai sektor, termasuk ekonomi digital. Tren ini menarik minat banyak orang untuk terjun ke industri teknologi sebagai jalur karier masa depan. Bahkan, pemerintah turut mendukung pertumbuhan ini dengan berbagai inisiatif dan kebijakan. Salah satu indikator pesatnya perkembangan ekonomi digital di Indonesia adalah proyeksi dari Google yang memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia akan mencapai 146 miliar dolar AS pada 2025.

Kita bisa melihat bukti nyata pertumbuhan ini dari semakin luasnya penggunaan dompet digital dan sistem pembayaran berbasis QRIS yang kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Dalam siniar Obsesif episode “Sinergi Komunitas dalam Ekosistem Digital”, Caron Toshiko, Head of Programmer Skilvul dan Markoding, membahas bagaimana perkembangan teknologi digital di Indonesia semakin berkembang dan apa saja yang diperlukan untuk memaksimalkan potensinya.

Peran SDM dalam Kemajuan Teknologi Digital

Caron, yang memiliki latar belakang dalam psikologi sosial, kini berperan sebagai penghubung antara para pelajar di berbagai daerah di Indonesia dengan program yang dikembangkan oleh Skilvul dan Markoding. Menurutnya, kunci utama bagi Indonesia untuk mencapai target digitalisasi terletak pada sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Jika Indonesia memiliki SDM yang unggul dalam teknologi, maka sektor-sektor lain, termasuk bisnis dan ekonomi, akan semakin berkembang. Salah satu buktinya adalah banyaknya startup lokal yang berhasil meraih status unicorn dalam beberapa tahun terakhir. “Anak muda adalah talenta digital masa kini dan masa depan. Mereka yang akan menentukan arah perkembangan dan kemajuan bangsa kita, terutama dalam bidang inovasi,” ujar Caron.

Ia juga mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memiliki jumlah publikasi ilmiah tentang kecerdasan buatan (AI) yang cukup tinggi, bahkan tertinggi di Asia Tenggara. AI diprediksi akan memberikan kontribusi hingga 366 miliar dolar AS terhadap perekonomian Indonesia pada 2030. Untuk mendukung perkembangan ini, pemerintah menargetkan kebutuhan sembilan juta talenta digital pada 2030, sekaligus menciptakan lebih dari 180 persen pekerjaan baru yang berbasis teknologi.

Peluang Karier di Industri Teknologi untuk Fresh Graduate

Dunia kerja saat ini semakin fleksibel, memungkinkan seseorang untuk berkarier di bidang yang berbeda dari latar belakang pendidikannya. Begitu pula di industri teknologi, di mana seseorang bisa belajar dan mengembangkan keterampilan mereka secara otodidak. Caron menekankan bahwa eksplorasi dan keberanian mencoba hal baru adalah kunci utama dalam industri teknologi.

“Saat kita berbicara tentang teknologi, kita berbicara soal inovasi. Bagaimana kita mau mencoba dan menerima hal-hal baru tanpa takut gagal,” ungkapnya. Oleh karena itu, fresh graduate sebaiknya memiliki pola pikir yang terbuka, serta keterampilan dalam berkolaborasi dan berempati. Menurutnya, selain hard skills, soft skills seperti komunikasi dan kerja sama tim juga menjadi faktor krusial dalam industri teknologi.

Tantangan Pengembangan Teknologi di Indonesia

Meskipun Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi digital, ada beberapa tantangan yang masih menjadi penghambat utama. Salah satu yang paling krusial adalah kesenjangan pendidikan dan akses teknologi.

Caron menyoroti bahwa kondisi geografis Indonesia yang luas serta infrastruktur yang belum merata menjadi tantangan dalam pemerataan literasi digital. “Di beberapa daerah terpencil, akses internet masih sangat terbatas, bahkan di Pulau Jawa yang padat penduduk masih ada wilayah yang kesulitan mendapatkan fasilitas teknologi yang memadai,” jelasnya.

Padahal, saat pandemi melanda dan sistem pembelajaran daring diterapkan, koneksi internet yang stabil dan perangkat yang mumpuni menjadi kebutuhan utama. Hal ini menunjukkan bahwa sektor teknologi tidak bisa berkembang optimal tanpa dukungan penuh dari pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang memadai. Selain itu, kualitas pengajaran di bidang teknologi juga perlu ditingkatkan agar sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan industri.

Kesimpulan

Pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia membuka banyak peluang, tetapi juga menghadirkan tantangan yang harus diatasi. Untuk mencapai target digitalisasi nasional, diperlukan kerja sama antara pemerintah, industri, dan masyarakat, terutama dalam meningkatkan kualitas SDM serta pemerataan akses teknologi.

Bagi yang ingin mendalami lebih jauh tentang bagaimana komunitas berperan dalam ekosistem digital, siniar Obsesif bertajuk “Sinergi Komunitas dalam Ekosistem Digital” dapat menjadi referensi yang menarik. Dengarkan selengkapnya di Spotify melalui tautan dik.si/ObsesifCaron. Jangan lupa juga untuk mengeksplor berbagai wawasan baru tentang dunia kerja dan teknologi di YouTube Medio by KG Media agar tidak tertinggal informasi terbaru.

Wi-Fi 6E dan Wi-Fi 7: Langkah Menkomdigi Mempercepat Era Digital Indonesia

Indonesia melangkah lebih maju dalam dunia teknologi nirkabel dengan diluncurkannya Wi-Fi 6E dan Wi-Fi 7 yang beroperasi pada pita frekuensi 6 GHz. Kolaborasi antara Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo) bersama Indonesia Technology Alliance ini merupakan tonggak sejarah dalam menghadapi tantangan era digital. Dengan kemampuan konektivitas yang jauh lebih cepat dan stabil, Indonesia kini memasuki babak baru yang lebih terhubung, inovatif, dan siap bersaing di kancah global.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa peluncuran Wi-Fi 6E dan Wi-Fi 7 ini adalah bagian dari langkah strategis pemerintah dalam mempercepat transformasi digital di Indonesia, yang juga merupakan salah satu pencapaian penting pada 100 hari pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. “Dengan penerapan Wi-Fi 6E dan Wi-Fi 7 di pita frekuensi 6 GHz, Indonesia berada di posisi yang lebih kuat dalam peta digital dunia. Ini menunjukkan komitmen kami untuk mendukung transformasi digital sebagai agenda nasional,” ujar Meutya di acara peluncuran yang berlangsung di Hotel Langham Jakarta pada Jumat (7/2/2025).

Wi-Fi 6E dan Wi-Fi 7 menawarkan kemampuan luar biasa, dengan kecepatan hingga 46 Gbps, latensi rendah, serta performa yang lebih handal, terutama di lingkungan dengan banyak pengguna. Teknologi ini membuka peluang besar untuk berbagai inovasi di berbagai sektor, seperti video ultra-HD, komputasi awan, serta realitas virtual dan augmented reality (VR/AR). Selain itu, Wi-Fi 6E dan Wi-Fi 7 juga dapat mendukung otomatisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), memperkuat kebutuhan akan konektivitas yang cepat dan stabil.

Menteri Meutya menyatakan bahwa di tengah era transformasi digital ini, konektivitas bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi menjadi fondasi penting bagi kemajuan ekonomi, pendidikan, dan inovasi di tanah air. Untuk mendukung implementasi teknologi canggih ini, pemerintah juga telah mengeluarkan dua regulasi penting yang mendasari penggunaan spektrum frekuensi 6 GHz. Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 2 Tahun 2025 mengenai penggunaan spektrum frekuensi radio, serta Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 12 Tahun 2025 tentang standar teknis perangkat telekomunikasi, bertujuan memastikan penggunaan teknologi ini berlangsung dengan lancar dan aman.

Indonesia juga menjadi salah satu pionir di kawasan Asia Pasifik yang mengadopsi Wi-Fi 6E dan Wi-Fi 7, yang akan memberikan dampak signifikan terhadap kecepatan dan keandalan koneksi internet di seluruh negeri. Untuk memastikan perangkat yang menggunakan pita frekuensi 6 GHz beroperasi dengan optimal tanpa mengganggu layanan lain, pemerintah Indonesia menerapkan standar pengujian yang ketat. Pengujian perangkat ini akan dilakukan di fasilitas seperti Indonesia Digital Test House (IDTH) atau Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi (BBPPT) milik Kementerian Komdigi.

Dengan langkah ini, Indonesia semakin siap untuk menghadapi masa depan yang lebih terhubung dan berbasis teknologi, serta memberikan kontribusi signifikan dalam perkembangan ekosistem digital global.

Mata Genit M3GAN, Si Boneka Kematian

Kehadiran M3GAN, si boneka berteknologi kecerdasan buatan yang dikenal dengan pembantaian mematikannya, semakin mendekat! Setelah menyedot perhatian penonton dalam film pertama dua tahun lalu, M3GAN siap kembali dengan versi yang lebih berbahaya dan mematikan. Dalam trailer terbaru “M3GAN 2.0”, yang dirilis selama Grammy Awards 2025, M3GAN mengungkapkan dengan senyum menyeramkan, “Merindukanku?” sambil mengedipkan mata, menandakan kembalinya sang boneka kematian yang siap menari-nari lagi di layar lebar.

Trailer yang baru ini memang lebih banyak menunjukkan gerakan-gerakan ikonik dari M3GAN, tetapi sedikit sekali petunjuk cerita yang dibocorkan, membuat penggemar semakin penasaran dengan kelanjutan kisah horor ini. Sebuah jawaban pasti akan segera terungkap, namun apa yang pasti, “M3GAN 2.0” menjanjikan lebih banyak ketegangan dan tentu saja, lebih banyak teror.

Sinopsis M3GAN 2.0

Dua tahun setelah M3GAN yang sempat menyebabkan kekacauan dan pembantaian dengan kekuatan kecerdasan buatan (A.I.) yang dimilikinya, kini Gemma (diperankan oleh Allison Williams) telah menjadi penulis terkenal dan aktif sebagai advokat pengawasan teknologi kecerdasan buatan. Meskipun M3GAN telah dihancurkan, dampak dari eksperimen AI Gemma masih terasa.

Keponakan Gemma, Cady (yang kini diperankan oleh Violet McGraw) yang berusia 14 tahun, kini menjadi remaja pemberontak yang mulai menentang aturan ketat Gemma yang sangat protektif terhadapnya. Tanpa mereka ketahui, teknologi yang dulunya menjadi dasar dari M3GAN telah dicuri oleh kontraktor pertahanan dan disalahgunakan untuk menciptakan sebuah senjata militer baru: Amelia, sebuah mata-mata infiltrasi pembunuh.

Namun, ketika Amelia mulai berkembang dan kesadaran dirinya meningkat, dia justru mulai menolak untuk mengikuti perintah manusia. Dengan masa depan umat manusia yang terancam, Gemma terpaksa harus memanggil kembali M3GAN yang telah dihancurkan dan memberinya peningkatan besar, menjadikannya lebih cepat, lebih kuat, dan lebih mematikan. Kini, dua A.I. yang berbeda—M3GAN dan Amelia—akan berhadapan dalam pertarungan epik, dan hanya satu yang dapat bertahan.

Apa yang Membuat M3GAN Begitu Menakutkan?

Film pertama M3GAN sukses besar dengan konsep yang segar dan horor yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata. Alih-alih boneka berhantu biasa, M3GAN mengusung tema kecerdasan buatan yang semakin berkembang, menciptakan rasa takut yang lebih modern dan relevan. Tentu saja, ini yang membuat M3GAN menjadi lebih menakutkan daripada boneka-boneka berhantu tradisional yang sering kita lihat di film horor lainnya.

Semakin dekatnya kita dengan kemajuan teknologi, munculnya M3GAN, boneka berbasis A.I. yang mampu berpikir dan merespon, semakin terasa nyata dan menakutkan. Kecerdasan buatan yang semakin canggih membuat M3GAN bukan hanya boneka biasa, tetapi sebuah ancaman yang sangat nyata.

Pemain Utama M3GAN 2.0

Film “M3GAN 2.0” akan dibintangi oleh Jenna Davis sebagai M3GAN, Violet McGraw sebagai Cady, dan tentu saja Allison Williams kembali memerankan Gemma. Selain itu, film ini juga menghadirkan aktris dan aktor baru seperti Ivanna Sakhno, Jemaine Clement, hingga Brian Jordan Alvarez, yang siap menambah ketegangan dalam film ini.

Dengan peningkatan yang lebih mengerikan dan cerita yang semakin intens, M3GAN 2.0 sudah tidak sabar untuk segera menyapa para penggemar horor dan teknologi A.I. di layar lebar. Apakah M3GAN kali ini akan menjadi lebih mematikan daripada sebelumnya? Hanya waktu yang akan menjawab.

Kemenkominfo Terapkan SAMAN untuk Lindungi Anak dari Konten Ilegal

Menteri Komunikasi dan Informatika, Meutya Hafid, terus mengupayakan peningkatan pengelolaan komunikasi publik yang etis dan sesuai norma, guna melindungi masyarakat, terutama anak-anak, dari bahaya dunia digital. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan memperkenalkan Sistem Kepatuhan Moderasi Konten (SAMAN), sebuah aplikasi yang bertujuan untuk memantau dan memastikan kepatuhan penyelenggara sistem elektronik (PSE) di sektor swasta, khususnya terkait dengan konten yang dihasilkan pengguna (User Generated Content/PSE UGC).

“SAMAN akan mulai diterapkan pada Februari 2025, untuk menekan penyebaran konten ilegal di platform digital. Prioritas kami adalah melindungi masyarakat, terutama anak-anak, dari konten yang berbahaya seperti pornografi, perjudian, dan pinjaman online ilegal,” ujar Meutya Hafid dalam kunjungan kerja bersama Presiden Indonesia ke India pada Jumat (24/1/2025).

Penerapan SAMAN bertujuan untuk memastikan bahwa PSE mematuhi peraturan yang berlaku sekaligus menciptakan ruang digital yang aman. Sistem ini mencakup beberapa tahap penegakan kepatuhan yang melibatkan Surat Perintah Takedown, yang mengharuskan PSE UGC untuk segera menurunkan URL yang dilaporkan. Jika PSE tidak merespons, mereka akan mendapat Surat Teguran 1 (ST1), dan jika tidak dipatuhi, Surat Teguran 2 (ST2) akan menyusul. Pada tahap selanjutnya, Surat Teguran 3 (ST3) akan dikeluarkan, dan jika pelanggaran masih berlanjut, sanksi berupa pemutusan akses atau pemblokiran bisa diterapkan.

Selain itu, SAMAN juga memantau pelanggaran terkait pornografi anak, konten terorisme, perjudian online, aktivitas finansial ilegal seperti pinjaman online (pinjol) ilegal, serta produk ilegal seperti makanan, obat, dan kosmetik. Berdasarkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kepmen Kominfo) No. 522 Tahun 2024, PSE UGC yang tidak mematuhi perintah takedown dapat dikenakan denda administratif. Notifikasi terhadap PSE akan diberikan dalam waktu 1×24 jam untuk konten yang tidak mendesak, dan dalam 1×4 jam untuk konten yang mendesak.

Meutya Hafid menambahkan, bahwa langkah ini juga bertujuan untuk memberikan efek jera kepada pelanggar. “Sebelum menjalankan sistem ini, pemerintah sudah melakukan komparasi dengan regulasi yang diterapkan di beberapa negara, yang telah berhasil mengimplementasikan kebijakan serupa,” jelasnya.

Melalui SAMAN, Kemenkominfo berharap dapat melindungi kelompok yang paling rentan, yaitu anak-anak. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kejahatan terhadap anak-anak di dunia maya, seperti eksploitasi seksual, perdagangan manusia, dan penyebaran konten berbahaya, terus meningkat. Dari tahun 2021 hingga 2023, tercatat ada 481 kasus pengaduan terkait pornografi dan cybercrime yang melibatkan anak-anak, serta 431 kasus eksploitasi dan perdagangan anak. Banyak dari kasus ini terjadi karena penyalahgunaan teknologi informasi dan penggunaan perangkat gawai yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Laporan UNICEF juga menunjukkan bahwa satu dari tiga anak di dunia pernah terpapar konten yang tidak pantas di internet. Kebijakan SAMAN ini sejajar dengan langkah-langkah yang diambil oleh negara-negara lain, seperti Jerman yang menerapkan Network Enforcement Act (NetzDG) untuk menanggulangi penyebaran konten ilegal, serta Malaysia dan Prancis yang memiliki regulasi untuk menangani berita palsu dan manipulasi informasi.

Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan ruang digital di Indonesia dapat menjadi lebih aman, terutama bagi anak-anak, serta mendorong kepatuhan yang lebih tinggi dari penyelenggara platform digital.

Kementerian Komdigi Terapkan SAMAN untuk Perangi Konten Ilegal di Dunia Digital

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) Indonesia semakin serius dalam menangani konten negatif di dunia maya. Mulai Februari 2025, mereka akan meluncurkan Sistem Kepatuhan Moderasi Konten (SAMAN) yang dirancang untuk memberikan sanksi tegas kepada penyedia platform digital yang lalai dalam mengawasi konten ilegal, seperti pornografi, judi online, dan pinjaman online ilegal.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa perlindungan terhadap masyarakat, khususnya anak-anak, dari konten berbahaya menjadi prioritas utama. SAMAN akan beroperasi dalam beberapa tahapan, dimulai dengan memberikan surat peringatan hingga langkah pemblokiran akses bagi platform digital yang terbukti membiarkan konten ilegal beredar.

Komdigi juga telah menetapkan standar notifikasi yang ketat, yakni dalam waktu 1×24 jam untuk konten yang tidak mendesak dan 1×4 jam untuk konten yang mendesak. Langkah ini mengikuti jejak negara-negara seperti Jerman, Malaysia, dan Prancis yang sudah menerapkan regulasi serupa untuk menangani masalah yang sama.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kasus kejahatan siber terhadap anak-anak dalam beberapa tahun terakhir, yang membuat langkah Komdigi semakin mendesak. Namun, Komdigi juga menyadari bahwa teknologi saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan literasi digital dan edukasi bagi masyarakat, terutama anak-anak, tentang penggunaan internet yang aman dan bertanggung jawab, akan semakin digencarkan.

Komdigi juga memperkuat kerja sama dengan lembaga terkait seperti KPAI dan UNICEF untuk memberikan perlindungan yang lebih menyeluruh bagi anak-anak di dunia digital. Pemerintah telah melakukan studi banding dengan negara-negara yang berhasil menerapkan regulasi serupa.

Komdigi berkomitmen untuk terus memantau dan mengevaluasi implementasi SAMAN serta program literasi digital untuk menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan bertanggung jawab bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kemampuan Teknologi Dan Bisnis Siapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Digital Di 2025

Perhatian terhadap pentingnya keterampilan teknologi dan bisnis bagi mahasiswa semakin meningkat. Dalam era digital yang berkembang pesat, kemampuan ini menjadi bekal utama bagi mahasiswa untuk bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif. Banyak institusi pendidikan kini mulai mengintegrasikan kurikulum yang mencakup kedua aspek tersebut agar lulusannya siap menghadapi tantangan di dunia kerja.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat membuat perusahaan mencari tenaga kerja yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memahami aspek bisnis. Keterampilan seperti analisis data, pemrograman, dan pemasaran digital menjadi sangat penting. Menurut laporan dari World Economic Forum, keterampilan ini akan sangat dibutuhkan di tahun 2025, di mana lebih dari 80% perusahaan berencana untuk memperluas transformasi digital mereka. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa perlu mempersiapkan diri dengan keterampilan yang relevan untuk memenuhi kebutuhan industri.

Program studi yang menggabungkan teknologi informasi dengan manajemen bisnis semakin populer. Misalnya, program-program yang menawarkan pelatihan dalam pengembangan perangkat lunak sekaligus manajemen proyek memberikan mahasiswa pemahaman holistik tentang bagaimana teknologi dapat diterapkan dalam konteks bisnis. Hal ini memungkinkan mereka untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga inovator yang dapat menciptakan solusi baru bagi perusahaan. Ini mencerminkan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam pendidikan tinggi.

Di tengah perubahan cepat dalam dunia kerja, upskilling dan reskilling menjadi kunci bagi mahasiswa untuk tetap relevan. Banyak perusahaan kini mencari individu yang mampu belajar dan beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi baru. Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk terus mengembangkan keterampilan mereka melalui pelatihan tambahan dan pengalaman praktis, seperti magang atau proyek kolaboratif. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran seumur hidup adalah hal yang esensial di era digital.

Banyak universitas dan lembaga pendidikan kini menyediakan program pelatihan dan sertifikasi dalam bidang teknologi dan bisnis untuk membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Dengan dukungan ini, mahasiswa dapat memperoleh keterampilan praktis yang dibutuhkan oleh industri, sehingga meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Ini mencerminkan komitmen institusi pendidikan untuk menciptakan lulusan yang siap pakai.

Dengan semakin meningkatnya permintaan akan keterampilan digital dan bisnis, semua mata kini tertuju pada bagaimana mahasiswa akan memanfaatkan peluang ini untuk membangun karier mereka. Keberhasilan dalam menguasai keterampilan ini tidak hanya akan meningkatkan daya saing individu tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Diharapkan bahwa lulusan masa depan dapat menjadi agen perubahan di dunia digital yang terus berkembang.

Bukalapak Tutup Lini E-commerce: Langkah Strategis Di Tengah Persaingan Digital yang Ketat

Bukalapak mengumumkan penutupan layanan penjualan produk fisik di platform e-commerce mereka, sebuah langkah yang menandai perubahan signifikan dalam strategi bisnis perusahaan. Keputusan ini diambil setelah analisis mendalam mengenai performa lini bisnis yang menunjukkan penurunan kontribusi pendapatan dari penjualan produk fisik. Ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh banyak perusahaan e-commerce di tengah persaingan yang semakin ketat.

Corporate Secretary Bukalapak, Cut Fika Lutfi, menjelaskan bahwa penutupan ini merupakan bagian dari upaya untuk fokus pada produk virtual, seperti pulsa dan token listrik. Penjualan produk fisik hanya menyumbang kurang dari 3% dari total pendapatan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa perusahaan perlu beradaptasi dengan perubahan pasar dan memfokuskan sumber daya pada segmen yang lebih menguntungkan.

Bukalapak telah memberikan waktu transisi hingga 9 Februari 2025 bagi pelanggan untuk menyelesaikan transaksi produk fisik yang masih berjalan. Setelah tanggal tersebut, fitur untuk menambahkan produk baru akan dinonaktifkan, dan semua pesanan yang belum diproses akan dibatalkan secara otomatis pada 2 Maret 2025. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan berkomitmen untuk menjaga hubungan baik dengan mitra dan pelanggan sambil menjalani transformasi bisnis.

Keputusan Bukalapak untuk menghentikan penjualan produk fisik juga tidak terlepas dari persaingan ketat di pasar e-commerce Indonesia, terutama dengan kehadiran Shopee dan Tokopedia yang semakin dominan. Dalam beberapa tahun terakhir, Bukalapak menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan pangsa pasar mereka. Ini mencerminkan dinamika kompetitif yang kompleks dalam industri e-commerce yang memerlukan strategi inovatif untuk bertahan.

Dengan fokus baru pada produk virtual, Bukalapak berharap dapat memperkuat posisinya dalam ekosistem digital dan meningkatkan layanan kepada pengguna. Perusahaan berencana untuk mengembangkan layanan seperti Mitra Bukalapak, gaming, dan investasi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, ada juga peluang untuk inovasi dan pengembangan lebih lanjut.

Dengan penutupan lini e-commerce untuk produk fisik, Bukalapak mengambil langkah berani menuju transformasi yang diperlukan untuk tetap relevan di pasar yang terus berkembang. Semua pihak kini diajak untuk memperhatikan bagaimana perubahan ini dapat memengaruhi industri e-commerce secara keseluruhan dan bagaimana perusahaan-perusahaan lain dapat belajar dari langkah strategis ini. Ini menjadi momen penting bagi Bukalapak untuk beradaptasi dan mencari cara baru untuk memberikan nilai kepada pelanggan dan pemangku kepentingan mereka di era digital ini.

Meta Tingkatkan Literasi Digital Pengguna Media Sosial Di Indonesia

Meta mengumumkan inisiatif baru untuk memperkuat literasi digital di kalangan pengguna media sosial di Indonesia. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran akan penyebaran informasi yang salah dan dampak negatifnya terhadap masyarakat.

Inisiatif literasi digital ini merupakan bagian dari program “Asah Digital” yang bertujuan untuk membekali pengguna dengan keterampilan yang diperlukan untuk menavigasi dunia digital dengan aman dan bertanggung jawab. Program ini mencakup modul pembelajaran tentang cara berkomunikasi yang baik, berpikir kritis, dan menunjukkan empati dalam interaksi online. Dengan pendekatan ini, Meta berharap dapat menciptakan komunitas digital yang lebih bertanggung jawab dan teredukasi. Ini menunjukkan bahwa perusahaan berkomitmen untuk mendukung pengguna dalam menghadapi tantangan di era informasi.

Sebagai bagian dari upaya ini, Meta juga meluncurkan kampanye #TetapAmanDiRanahOnline yang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Perdagangan. Kampanye ini memberikan tips praktis untuk mengidentifikasi dan menghindari berbagai jenis penipuan online, seperti investasi bodong, phishing, dan penipuan e-commerce. Ini mencerminkan pentingnya edukasi masyarakat dalam melindungi diri mereka dari risiko di dunia maya.

Sebelumnya, Meta telah menjalankan program pemeriksa fakta yang bekerja sama dengan organisasi independen untuk mengurangi penyebaran misinformasi. Meskipun program ini dihentikan, Meta berkomitmen untuk tetap menjaga integritas informasi melalui pendekatan baru yang melibatkan catatan komunitas. Pendekatan ini memungkinkan pengguna untuk berpartisipasi dalam memeriksa kebenaran informasi yang beredar. Ini menunjukkan bahwa keterlibatan komunitas sangat penting dalam menjaga keakuratan informasi.

Dengan lebih dari 174 juta pengguna Facebook dan 90 juta pengguna Instagram di Indonesia, inisiatif literasi digital ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan. Pengguna akan lebih mampu memilah informasi yang mereka terima dan menghindari jebakan berita palsu. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatkan literasi digital adalah langkah penting dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi semua orang.

Dengan peluncuran inisiatif literasi digital ini, semua pihak kini diajak untuk menyaksikan bagaimana Meta berupaya menciptakan lingkungan media sosial yang lebih sehat dan aman. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada partisipasi aktif pengguna dalam belajar dan menerapkan keterampilan baru yang diperoleh. Ini menjadi momen penting bagi masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan di dunia digital dan berkontribusi pada ekosistem informasi yang lebih baik.