Tag Archives: Kecerdasan Buatan

https://mezzojane.com

Masa Depan Teknologi: Pameran Produk Konsumen Internasional China Menampilkan Inovasi Canggih

Pameran Produk Konsumen Internasional China (CICPE) kelima yang sedang berlangsung di Haikou, China, menjadi ajang yang menarik perhatian dengan integrasi teknologi terbaru ke dalam kehidupan sehari-hari. Sejak 13 hingga 18 April, pameran ini menampilkan berbagai inovasi dalam kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi ketinggian rendah, menjadikannya sebagai gambaran masa depan yang semakin cerdas dan terhubung.

Beberapa raksasa teknologi, seperti Huawei dan China Mobile, memamerkan solusi futuristik mereka. Huawei memperkenalkan ekosistem HarmonyOS yang menghubungkan pengguna, kendaraan, dan rumah dengan teknologi pelacakan mata untuk membaca buku digital tanpa menggunakan tangan. Sementara itu, China Mobile menampilkan sistem rumah pintar dengan robot pendamping untuk perawatan lansia dan keamanan rumah berbasis AI.

AI juga menjadi fokus utama dengan robot-robot humanoid yang mampu melakukan tugas kompleks, seperti menari dengan kostum etnis lokal atau menangani barang-barang rentan. Teknologi kesehatan turut disorot, dengan pemantauan glukosa berkelanjutan dan kacamata terapi cahaya yang semakin menonjolkan perpaduan antara teknologi dan kesehatan.

CICPE juga memperkenalkan inovasi dalam ekonomi ketinggian rendah, seperti pesawat listrik eVTOL dan kendaraan terbang. Inovasi ini memberi gambaran tentang logistik kota pintar yang semakin berkembang. Selain itu, pesawat nirawak dari United Aircraft juga mendapat sorotan dengan sertifikasi tipe pertama untuk helikopter nirawak di China, memperlihatkan masa depan industri drone di negara tersebut.

AI dan Masa Depan Digital ASEAN-China: Kolaborasi Cerdas di Tengah Tantangan Etika

Perwakilan media dan wadah pemikir dari Tiongkok serta negara-negara anggota ASEAN berkumpul dalam Forum Media dan Wadah Pemikir China-ASEAN yang digelar di Kuala Lumpur, Jumat (11/4). Forum yang mengangkat tema “Memperkuat Kerja Sama ASEAN-China” ini menjadi ruang diskusi mendalam tentang tantangan dan peluang yang ditawarkan kecerdasan buatan (AI) di era digital saat ini.

Dalam konsensus yang dihasilkan, peserta menekankan bahwa kemajuan AI membawa potensi besar bagi transformasi pembangunan, namun juga menimbulkan risiko yang perlu diantisipasi. AI diakui mampu mempercepat proses riset, komunikasi, dan pengambilan keputusan, tetapi tetap harus dikendalikan oleh kebijaksanaan dan keahlian manusia. Pamela Samia dari Kantor Berita Filipina menyatakan bahwa meskipun AI sangat membantu, peran manusia tetap tak tergantikan dalam penilaian kritis dan pengambilan keputusan.

Veronika S. Saraswati dari Indonesia China Partnership Studies menambahkan bahwa pengembangan AI harus berpijak pada data lokal serta nilai-nilai budaya Timur, demi menciptakan keseimbangan di ruang digital global. Sementara itu, Sivanxay Siphankham dari Kantor Berita Laos menyoroti pentingnya kolaborasi dalam mengatasi tantangan misinformasi dan menjaga transparansi AI di tangan manusia.

Lee Chean Chung dari Malaysia menegaskan bahwa etika, privasi, dan transparansi algoritma perlu menjadi pilar utama dalam kebijakan AI. Thida Tin dari Myanmar turut mengingatkan bahwa inovasi teknologi harus berjalan beriringan dengan pertimbangan etis demi menjaga dampak sosial yang adil dan berkelanjutan. Forum ini berhasil mempertemukan 260 peserta dari lebih 160 institusi lintas ASEAN dan Tiongkok.

Ketika AI Menjadi Pedang Bermata Dua di Dunia Pemeriksaan Fakta

Di tengah derasnya arus informasi palsu yang semakin canggih, teknologi kecerdasan buatan (AI) kini menjadi andalan baru bagi banyak organisasi pemeriksa fakta di seluruh dunia. Kecepatan dan efisiensi yang ditawarkan AI menjadi solusi atas tuntutan kerja yang semakin menekan. Meski demikian, tak sedikit yang masih memandang penggunaan AI dengan penuh kehati-hatian. Laporan Tahunan Pemeriksa Fakta 2024 dari International Fact Checking Network (IFCN) menggambarkan lanskap pemanfaatan AI oleh 141 organisasi dari 67 negara. Mayoritas, sebanyak 53,6%, menggunakan AI untuk riset awal, sementara hanya sebagian kecil yang menggunakannya untuk produksi konten, penyusunan laporan, dan komunikasi publik. Meski begitu, sekitar 20% organisasi belum mengadopsi AI sama sekali.

Hal menarik dari laporan tersebut adalah minimnya organisasi yang memanfaatkan AI untuk menulis pemeriksaan fakta secara langsung. Hanya 16,5% yang secara terbuka menyampaikan penggunaan AI dalam penulisan, dan 5,8% lainnya tidak menginformasikannya sama sekali. Ketertutupan ini menimbulkan pertanyaan etis, mengingat transparansi merupakan fondasi utama dalam praktik jurnalistik. Hambatan etis menjadi tantangan utama menurut hampir separuh responden. Selain itu, biaya mahal, keterbatasan alat berkualitas, serta dukungan terhadap bahasa non-Inggris juga menjadi persoalan serius.

Isu akses data pun menjadi perhatian. Sekitar 56% organisasi mengizinkan AI mengakses konten mereka, namun sebagian lainnya membatasi atau belum mengambil keputusan. Di tengah potensi besar AI, jelas bahwa keberhasilannya sangat tergantung pada kebijakan yang tepat, komitmen etika, dan keterbukaan terhadap publik. Karena dalam dunia jurnalisme, teknologi bisa membantu, tapi kepercayaanlah yang jadi nilai utama.

Teknologi Genomik China Jadi Harapan Baru Ketahanan Pangan Afrika

Kerja sama teknologi antara China dan Afrika semakin menunjukkan potensinya sebagai solusi nyata dalam meningkatkan ketahanan pangan di benua Afrika, terutama di tengah tantangan krisis iklim, penyebaran hama, serta menurunnya kesuburan tanah. Dalam acara bertajuk “Membangun Jembatan” yang diselenggarakan di sela Pekan Ilmu Pengetahuan CGIAR di Nairobi, sejumlah ilmuwan dan pemimpin industri menyoroti pentingnya platform transfer teknologi pertanian sebagai langkah strategis untuk masa depan sistem pangan Afrika. Melalui kolaborasi ini, teknologi seperti pemuliaan tanaman modern, pengendalian hama cerdas, dan irigasi efisien diyakini mampu menjadi ujung tombak dalam menghadapi kelaparan yang terus membayangi. CGIAR bersama mitra-mitranya, termasuk BGI Group dari China, menjajaki kolaborasi lanjutan di bidang konservasi keanekaragaman hayati dan inovasi agrikultur. Direktur Pelaksana CGIAR, Ismahane Elouafi, menegaskan perlunya integrasi kecerdasan buatan, ilmu genomik, serta teknologi nano demi mendorong produktivitas pertanian dan peternakan di Afrika, sekaligus menekan biaya impor pangan yang mencapai 100 miliar dolar AS per tahun. Wakil dari BGI Group menambahkan bahwa platform pengurutan genomik dan model AI milik mereka mampu mendigitalkan jutaan sampel plasma nutfah yang dikumpulkan dari berbagai belahan dunia. Kemitraan ini diharapkan akan mempercepat proses pemuliaan tanaman tahan iklim dan memperkuat sistem pangan di negara-negara yang berkembang, menjadikan teknologi genomik sebagai motor penggerak revolusi pertanian Afrika.

Kakek dalam Layar: Ketika AI Menghidupkan Kenangan di Festival Qingming

Menjelang Festival Qingming, saat masyarakat Tiongkok berziarah dan merawat makam leluhur, Zhang Ming merasakan kehangatan emosional yang tak terduga. Berkat teknologi kecerdasan buatan, ia bisa kembali berbincang dengan mendiang kakeknya melalui avatar digital yang menyerupai manusia. Menggunakan aplikasi Lingyu atau “Pertemuan Spiritual”, Zhang menciptakan replika virtual sang kakek dengan mengunggah foto, suara, dan informasi latar belakang. Teknologi ini membentuk avatar yang tidak hanya menyerupai secara visual, tetapi juga bisa berbicara dalam dialek lokal dan berekspresi secara emosional. “Rasanya seperti berbicara dengannya lagi,” ujar Zhang, menggambarkan pengalaman yang mengharukan. Bagi banyak keluarga, kemajuan ini menjadi pelipur lara modern, memungkinkan mereka untuk merasa dekat kembali dengan orang-orang tercinta yang telah tiada. Popularitas avatar AI ini melonjak setelah sebuah acara TV memperlihatkan simulasi interaktif antara seorang selebritas dan mendiang mertuanya, yang memicu tangis haru sang istri. Meskipun teknologi ini menawarkan kenyamanan emosional, ada pula kekhawatiran akan dampaknya terhadap kondisi mental dan privasi pengguna. Pakar hukum menyoroti risiko penyalahgunaan data pribadi dan potensi pencemaran nama baik jika tidak diawasi dengan ketat. Pemerintah Tiongkok telah menerapkan berbagai regulasi untuk mengendalikan teknologi ini, namun para ahli menilai pengawasan dan etika dalam penggunaannya perlu terus disesuaikan dengan perkembangan. Di tengah kemajuan ini, harapannya tetap satu: agar teknologi tetap menjadi penghubung rasa, bukan pengabur kenyataan.

China dan Indonesia Perkuat Sinergi AI Lewat Kolaborasi Guangxi dan Komdigi RI

Delegasi dari Nanning, ibu kota Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, melakukan kunjungan intensif ke Indonesia dalam rangka memperkuat kerja sama di bidang kecerdasan buatan (AI). Selama kunjungan tersebut, berbagai diskusi dan pertukaran ide digelar, terutama terkait dengan ekonomi digital, pengembangan platform kolaborasi inovasi, serta penerapan AI di berbagai sektor. Sugiato Lim, pemuda Indonesia yang telah lama menetap di Guangxi, mengungkapkan harapannya agar kerja sama ini membawa manfaat besar bagi kedua negara dalam mendorong perkembangan teknologi yang berkelanjutan dan inklusif.

Guangxi saat ini sedang aktif menerapkan strategi “Artificial Intelligence +” dengan fokus pada percepatan pembangunan Pusat Inovasi Kecerdasan Buatan China-ASEAN. Inisiatif ini ditujukan untuk mendorong kolaborasi industri AI di kawasan dan mendukung pembangunan berkualitas tinggi yang berbasis teknologi. Dalam dua tahun terakhir, Guangxi telah menandatangani lebih dari 30 perjanjian digital dengan negara-negara ASEAN, termasuk dalam bidang teknologi navigasi seperti Beidou serta penerapan sistem AI dalam berbagai aspek kehidupan.

Wakil Menteri Komdigi RI, Angga Raka Prabowo, menyambut baik model AI terbuka yang dikembangkan China seperti DeepSeek karena dianggap efisien dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Menurutnya, karakteristik DeepSeek yang terbuka, hemat energi, dan rendah biaya sangat relevan dengan strategi pengembangan AI Indonesia. Pemerintah Indonesia sendiri telah memiliki Strategi Nasional AI 2020–2045 yang menjadi dasar kuat untuk kerja sama lebih lanjut di masa depan. Kedekatan geografis Guangxi dengan kawasan ASEAN dinilai menjadi keunggulan tersendiri dalam menjalin kemitraan strategis ini, terutama dalam membentuk pusat inovasi AI yang melibatkan berbagai negara di Asia Tenggara.

Kolaborasi AI Pertama di Tiongkok: XJTLU dan Baidu Dirikan Pudu Co-Intelligence

Pada 26 Maret lalu, Pudu Co-Intelligence Technology Company resmi diluncurkan di Tiongkok sebagai perusahaan patungan pertama di bidang kecerdasan buatan (AI) antara universitas dan korporasi, hasil kerja sama antara Xi’an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU) dan raksasa teknologi Baidu Group. Inisiatif ini menandai langkah besar dalam memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri melalui teknologi AI.

Dengan fokus pada transformasi pendidikan, Pudu Co-Intelligence bertujuan untuk memperbarui seluruh rantai nilai di sektor pendidikan melalui penerapan kecerdasan buatan. Mereka ingin mendukung perkembangan industri, memperkuat ekosistem layanan lokal, dan memaksimalkan potensi teknologi dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam waktu dekat, Pudu akan mengadakan “Pudu Co-Intelligence AI Forum” yang melibatkan ilmuwan dari Baidu, peneliti XJTLU, serta pelaku industri dan pembuat kebijakan.

Tak hanya forum, perusahaan ini juga akan meluncurkan beberapa inisiatif seperti ruang pembelajaran berbasis AI, laboratorium mixed-reality, serta platform kolaborasi riset model besar. Mereka juga menghadirkan program sertifikasi profesional untuk pendidik dan pelaku transformasi digital, serta kompetisi inovasi bertajuk “Pudu Co-Intelligence Cup AI” yang melibatkan pemerintah dan pelaku usaha lokal.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari kolaborasi XJTLU dan Baidu sejak 2023, termasuk pendirian institut riset dan pusat inovasi AI. Kolaborasi ini mencerminkan tekad kedua pihak untuk mempercepat penerapan riset ke dalam solusi nyata, menjembatani dunia akademik dan industri melalui kecanggihan teknologi AI.

Kreativitas AI: Transformasi Dunia Seni dan Tantangan Etisnya

Kecerdasan buatan (AI) kini merambah dunia seni, mengguncang batasan yang dulu hanya dapat dicapai oleh seniman manusia. Salah satu contohnya adalah penciptaan gambar bergaya Studio Ghibli, yang bisa dihasilkan dalam hitungan detik menggunakan algoritma AI. Ini menantang pemahaman kita tentang apa itu kreativitas dan nilai seni, di mana teknologi mampu meniru keindahan visual yang sebelumnya memerlukan keterampilan dan latihan bertahun-tahun. Walau AI mampu menghasilkan karya visual yang mengesankan, muncul pertanyaan apakah teknologi bisa menyampaikan kedalaman makna dan emosi yang tercipta dalam seni manusia. Karya-karya Studio Ghibli sendiri bukan hanya soal visual, tetapi juga filosofi, budaya, dan pengalaman hidup yang tak bisa sepenuhnya ditiru oleh mesin. Meskipun AI menawarkan akses lebih luas dalam menciptakan seni, hal ini juga memunculkan dilema etis. Teknologi ini menggunakan karya-karya berhak cipta dari seniman asli sebagai data pelatihan, yang menciptakan perdebatan mengenai hak cipta dan keadilan bagi para kreator. Di satu sisi, AI membuka peluang bagi banyak orang untuk berkreasi, namun di sisi lain, demokratisasi seni ini perlu dipertimbangkan dalam konteks penghargaan terhadap karya asli. Teknologi AI harus dikembangkan dengan prinsip etika yang jelas, di mana seniman yang karyanya digunakan sebagai data pelatihan mendapatkan kompensasi yang adil. Sebagai masa depan seni, kolaborasi antara manusia dan mesin bisa melahirkan karya seni yang menggabungkan sentuhan manusiawi dengan kemampuan teknologi, memperkaya dunia seni tanpa menggantikan kreativitas manusia.

Kecerdasan Buatan vs Manusia: Mengapa AI Masih Kesulitan Membuat Analogi

Penelitian terbaru yang diterbitkan pada Februari 2025 dalam jurnal Transactions on Machine Learning Research mengungkapkan perbedaan mendalam antara cara manusia dan kecerdasan buatan (AI) memproses informasi, terutama dalam membuat analogi. Meskipun AI berkembang pesat, penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan AI dalam membuat analogi sederhana jauh tertinggal dibandingkan manusia. Para ilmuwan menguji kemampuan model bahasa besar (LLM) dan manusia dalam menyelesaikan soal analogi dan pola angka digital. Hasilnya, manusia unggul dalam menyelesaikan soal tersebut, sedangkan performa AI menurun tajam ketika soal menjadi lebih kompleks. Contohnya, dalam soal perubahan huruf, manusia cenderung dapat dengan cepat memahami pola, sementara AI sering gagal.

Salah satu temuan utama adalah bahwa AI masih belum memiliki kemampuan “zero-shot learning,” kemampuan manusia untuk menggeneralisasi dari pola yang belum pernah ditemui sebelumnya. AI hanya mampu mencocokkan pola yang telah ada, tetapi kesulitan dalam menarik kesimpulan dari situasi baru. Ini menunjukkan bahwa meskipun AI mampu mengenali pola, ia belum dapat membuat generalisasi seperti manusia. Kelemahan ini memiliki dampak signifikan, terutama dalam bidang hukum, di mana AI mulai digunakan untuk membantu analisis kasus dan rekomendasi hukuman. Tanpa kemampuan berpikir analogis yang kuat, AI berisiko gagal dalam menghubungkan preseden hukum yang relevan. Oleh karena itu, penelitian ini memperingatkan agar kita berhati-hati dalam mengandalkan AI untuk pengambilan keputusan penting, karena meskipun canggih, AI masih jauh dari kemampuan berpikir manusia.

Elon Musk Akuisisi X, xAI Kini Jadi Pemain Utama di Dunia Kecerdasan Buatan

Pada 2023, Elon Musk mendirikan xAI dengan tujuan menciptakan kecerdasan buatan yang mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar seperti OpenAI, Google, dan Microsoft. Setelah berjalan lebih dari setahun, Musk mengumumkan bahwa xAI telah berhasil mengakuisisi platform media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, dengan nilai akuisisi sebesar 33 miliar dolar AS. Kesepakatan ini dilakukan melalui transaksi berbasis saham, yang menjadikan xAI memiliki valuasi 80 miliar dolar AS dan X bernilai 33 miliar dolar AS, setelah dikurangi utang sebesar 12 miliar dolar AS. Musk menjelaskan bahwa akuisisi ini bertujuan untuk mengintegrasikan teknologi AI canggih milik xAI dengan jaringan distribusi dan sumber daya manusia yang dimiliki oleh X.

xAI yang berbasis di Amerika Serikat ini didirikan untuk mengembangkan teknologi AI yang lebih canggih, dengan tim awal yang terdiri dari beberapa orang yang berpengalaman dalam pengembangan GPT dan Google DeepMind. Salah satu pencapaian penting xAI adalah peluncuran Grok, chatbot berbasis AI yang bisa memberikan respons real-time dan berinteraksi secara komunikatif dengan pengguna. Integrasi Grok dengan platform X memungkinkan pengguna untuk berdiskusi dan memperoleh wawasan dengan lebih baik.

Pada Desember 2024, xAI berhasil menarik perhatian investor besar seperti BlackRock, Fidelity, dan Nvidia, yang turut berinvestasi dan meningkatkan valuasi perusahaan menjadi 45 miliar dolar AS. Dengan akuisisi X, xAI semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri kecerdasan buatan yang terus berkembang pesat.