Category Archives: Berita Kecerdasan Buatan (AI)

https://mezzojane.com

Pengaruh AI pada Otak Manusia: Apakah Kita Jadi Makin Pintar atau Malas Berpikir?

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin meluas di dunia kerja dapat membawa dampak positif, namun sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa kecanduan terhadap teknologi ini ternyata bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Microsoft bekerja sama dengan Carnegie Mellon University mengungkapkan bahwa terlalu sering mengandalkan AI dalam menyelesaikan tugas-tugas profesional dapat berisiko membuat otak menjadi “tumpul.”

Penelitian ini melibatkan 319 pekerja yang sehari-harinya berhubungan dengan pengolahan data dan informasi. Para peneliti meminta peserta untuk memberikan laporan mengenai bagaimana mereka memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka, mulai dari tingkat kepercayaan terhadap hasil yang diberikan AI, cara mereka mengevaluasi jawaban AI, hingga keyakinan mereka untuk menyelesaikan tugas tanpa bantuan AI.

Hasil riset menunjukkan pola menarik. Pertama, para pekerja yang semakin mempercayai kemampuan AI justru semakin jarang mengevaluasi atau mengawasi hasil jawaban dari AI tersebut. Hal ini terutama terlihat pada tugas-tugas yang dianggap mudah atau berisiko rendah. Banyak pekerja yang merasa bahwa menggunakan AI adalah cara yang efisien dan menganggap bahwa AI sudah cukup mampu menyelesaikan tugas tersebut. Beberapa di antara mereka bahkan merasa bahwa memanfaatkan AI dengan optimal adalah bagian dari keterampilan berpikir kritis mereka.

Namun, para peneliti memberi peringatan bahwa kebiasaan ini, meskipun tampak tidak berbahaya, dapat berakibat buruk dalam jangka panjang. Ketergantungan yang berlebihan pada AI dapat mengurangi kemampuan pekerja untuk menyelesaikan masalah secara mandiri dan memperlemah keterampilan berpikir kritis mereka. Dalam kata lain, penggunaan AI tanpa disertai evaluasi atau pertimbangan diri bisa membuat otak manusia “tumpul,” karena otak tidak lagi dilatih untuk berpikir secara mandiri.

Di sisi lain, ketika para pekerja merasa kurang yakin dengan hasil yang diberikan AI, mereka justru lebih sering melatih keterampilan berpikir kritis mereka. Pekerja yang merasa perlu memeriksa dan memperbaiki hasil AI secara aktif cenderung lebih percaya diri dalam menyelesaikan masalah secara mandiri.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa AI cenderung memberikan jawaban yang konsisten dan homogen, karena teknologi ini bekerja berdasarkan data yang telah dilatih sebelumnya. AI tidak dapat menciptakan ide-ide baru secara bebas, dan jika terlalu sering digunakan tanpa tambahan input manusia, hasil yang diberikan cenderung seragam. Hal ini bisa menyebabkan kurangnya kreativitas dan pemikiran baru, yang merupakan inti dari keterampilan berpikir kritis.

Sebagai kesimpulan, meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi kerja, riset ini mengingatkan kita bahwa penggunaannya yang berlebihan tanpa pemikiran kritis dapat mengurangi kemampuan untuk berpikir secara mandiri dan kreatif. Oleh karena itu, penting bagi pekerja untuk tetap mempertahankan keterampilan berpikir kritis mereka meskipun memanfaatkan kemajuan teknologi.

Pakai HP Samsung? Cek Daftar 61 Model yang Dapat One UI 7

Samsung baru saja memperkenalkan One UI 7, sistem antarmuka terbaru yang debut bersama Galaxy S25 Series pada Januari 2025. Berbasis pada Android 15, One UI 7 membawa berbagai pembaruan yang menyempurnakan versi sebelumnya, One UI 6.1. Pembaruan ini tidak hanya memberikan pengalaman yang lebih mulus bagi pengguna, tetapi juga membawa perubahan signifikan pada animasi dan navigasi yang lebih lancar. Bagi pengguna Samsung lainnya, kabar baiknya adalah bahwa pembaruan One UI 7 juga akan tersedia untuk berbagai model ponsel Samsung lainnya, termasuk Galaxy S24 Series yang diluncurkan pada Januari 2024.

Sesuai dengan kebijakan Samsung, pembaruan One UI 7 akan tersedia untuk lebih dari 60 model smartphone Samsung, termasuk ponsel dari lini Galaxy S, Galaxy A, Galaxy Z Fold/Flip, Galaxy M, hingga tablet Galaxy Tab S yang diluncurkan pada 2024. Samsung sendiri berkomitmen memberikan setidaknya dua pembaruan OS utama untuk perangkat entry-level, sementara untuk perangkat mid-range dan flagship, pembaruan dapat mencapai empat kali update OS Android. Berdasarkan ketentuan ini, beberapa model seperti Galaxy S21 Series, Galaxy Z Flip 3, dan Galaxy Fold 4 yang diluncurkan pada 2022, diperkirakan akan menerima One UI 7.

Daftar Ponsel yang Akan Menerima One UI 7
Berdasarkan pola rilis, berikut adalah beberapa ponsel Samsung yang dipastikan mendapatkan pembaruan One UI 7:

  • Galaxy S24 Series (Ultra, Plus, Galaxy S24, FE)
  • Galaxy S23 Series (Ultra, Plus, Galaxy S23)
  • Galaxy Z Fold 6 dan Flip 6
  • Galaxy A Series (A73, A72, A55, A54, A53 5G, A35, A34, A33 5G, A25, A24, A23, A16 5G, A16, A15 5G, A15, A14 5G, A14, A06, A05s, A05)
  • Galaxy M Series (M55, M54, M53, M35, M34, M33, M15, M05, M14 5G, M14)
  • Galaxy F Series (F55, F54, F34, F23, F15, F14 5G)

Fitur Baru One UI 7
One UI 7 membawa sejumlah pembaruan menarik yang berfokus pada kelancaran animasi dan navigasi. Pengguna akan merasakan perbedaan signifikan pada transisi antar aplikasi dan tampilan antarmuka yang lebih halus. Quick Panel dan notifikasi kini hadir dengan desain baru yang lebih menarik dan lebih besar. Salah satu fitur baru yang menarik adalah Now Bar, yang menampilkan informasi penting seperti panggilan aktif, pemutaran musik, hingga pengaturan waktu, yang dapat diakses langsung dari lock screen.

Notifikasi dan Quick Panel juga dipisahkan menjadi dua layar terpisah. Pengguna dapat dengan mudah mengakses notifikasi dengan mengusap layar dari atas, sementara Quick Panel bisa diakses dari sudut kanan atas layar untuk kontrol pengaturan cepat. Selain itu, pengguna kini dapat menyesuaikan urutan kontrol di Quick Panel sesuai keinginan dan berganti antara kedua panel hanya dengan gesekan ke kanan atau kiri.

Dengan One UI 7, Samsung semakin memperkuat posisinya dalam memberikan pengalaman Android yang lebih mulus dan canggih. Pembaruan ini semakin menjadikan Galaxy Series pilihan utama bagi mereka yang menginginkan perangkat dengan teknologi terbaru dan pengalaman pengguna terbaik.

Galaxy S25 Hadir dengan AI Multimodal, Samsung Bawa Inovasi Interaksi yang Lebih Intuitif

Samsung Electronics Co., Ltd. secara resmi memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) multimodal terbaru dalam seri Galaxy S25 pada ajang Galaxy Unpacked 2025 di San Jose, Amerika Serikat. Inovasi ini dirancang untuk menghadirkan interaksi yang lebih alami dengan perangkat, memungkinkan pengguna menggunakan kombinasi suara, teks, dan gambar secara bersamaan untuk pengalaman yang lebih intuitif dan efisien.

Jay Kim, Executive Vice President & Head of Customer Experience Office, Samsung Mobile eXperience, menekankan bahwa pengembangan AI ini didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap kebiasaan pengguna dalam menggunakan perangkat.

“Kami berusaha mempermudah proses input sekaligus memaksimalkan hasilnya. Dengan memahami pola penggunaan smartphone oleh konsumen, kami mengintegrasikan AI secara optimal agar dapat meningkatkan pengalaman mereka,” ujar Jay Kim pada Kamis (13/2/2025).

Samsung bekerja sama dengan Google dan Qualcomm untuk mempercepat pengembangan AI pada Galaxy S25. Dalam forum teknologi bertajuk True AI Companion: Impact on Life and What’s Next yang diadakan pada 23 Januari 2025, para ahli dari ketiga perusahaan membahas masa depan AI dalam perangkat seluler serta tantangan yang dihadapi dalam adopsinya.

Hasil penelitian Samsung bersama Symmetry Research di London menunjukkan bahwa 55% pengguna lebih memilih menggunakan AI di smartphone dibanding perangkat lainnya. Namun, masih terdapat tantangan besar terkait keamanan data dan kepercayaan pengguna.

“Penggunaan AI mobile meningkat hampir dua kali lipat dalam enam bulan terakhir. Meski potensinya sangat besar, tantangan seperti perlindungan data tetap menjadi faktor utama yang perlu diselesaikan agar adopsi AI semakin meluas,” ungkap Brauer, salah satu peneliti dalam studi tersebut.

Sameer Samat, President of Android Ecosystem, Google, menekankan bahwa AI seharusnya menjadi alat yang benar-benar mempermudah kehidupan pengguna, bukan sekadar fitur yang tampak canggih.

“AI harus bisa memahami bahasa manusia dengan lebih alami tanpa harus menggunakan kalimat yang terlalu kaku. Samsung telah berhasil menghadirkan pengalaman AI yang lebih intuitif dan efisien melalui Galaxy S25,” jelasnya.

Samsung juga meningkatkan teknologi on-device AI, memungkinkan pengguna mengakses fitur AI tanpa harus bergantung pada koneksi internet. Jika sebelumnya Galaxy S24 hanya memiliki enam fitur AI berbasis perangkat, kini Galaxy S25 menghadirkan sembilan fitur AI yang lebih canggih dan praktis.

Christopher Patrick, Senior Vice President & General Manager of Mobile Handset, Qualcomm Technologies, Inc., menjelaskan bahwa integrasi AI pada Galaxy S25 menghadirkan pengalaman yang lebih personal dan responsif terhadap kebutuhan pengguna.

“Teknologi AI ini bukan sekadar menghadirkan asisten virtual, tetapi juga memungkinkan perangkat memahami lingkungan sekitar serta berinteraksi dengan konten yang ditangkap kamera. Kolaborasi kami dengan Samsung memastikan pengalaman AI yang lebih mulus dan alami,” katanya.

Bob O’Donnell dari TECHnalysis juga mengapresiasi inovasi Samsung dalam menghadirkan AI yang semakin maju. Meski masih dalam tahap penyempurnaan, ia melihat bahwa Galaxy S25 telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam menghadirkan AI yang lebih fungsional bagi pengguna sehari-hari.

“Kemajuan AI mobile memang luar biasa, tetapi pengalaman pengguna masih bisa lebih ditingkatkan. Namun, apa yang dihadirkan Samsung dengan Galaxy S25 adalah langkah besar menuju AI yang benar-benar bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Samsung terus berupaya menghadirkan pengalaman AI yang lebih praktis bagi pengguna. Salah satu inovasi terbaru adalah akses cepat ke AI Gemini hanya dengan menekan lama tombol samping perangkat.

“Meskipun teknologi di balik AI ini sangat kompleks, cara mengaksesnya dibuat sesederhana mungkin. Dengan pendekatan ini, AI bisa menjadi bagian alami dari keseharian pengguna,” tutup Jay Kim.

Kemkomdigi Evaluasi Dampak DeepSeek, AI China yang Sedang Naik Daun

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tengah melakukan analisis mendalam terhadap kecerdasan buatan (AI) buatan DeepSeek, perusahaan asal China, untuk menilai manfaat serta potensi risikonya. Popularitas model AI ini meningkat pesat dalam beberapa waktu terakhir, menarik perhatian berbagai pihak di tingkat global.

“Kami akan lebih berhati-hati dan mendalami langkah yang perlu diambil terkait DeepSeek ini,” ujar Oky Suryowahono, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kebijakan Strategis Kemkomdigi, Selasa (11/2/2025).

Oky menekankan bahwa pemerintah tidak akan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan terkait AI ini. “Apakah benar ini menjadi ancaman, atau ada faktor lain yang belum kita ketahui terkait persaingan DeepSeek dengan kompetitornya?” tambahnya.

DeepSeek merupakan chatbot berbasis AI V3 yang memiliki fungsi serupa dengan ChatGPT dari OpenAI. Aplikasi ini memudahkan pengguna dalam menganalisis dokumen, mencari informasi di internet, serta menjawab berbagai pertanyaan. Selain itu, fitur unggah berkas dan sinkronisasi riwayat obrolan antarperangkat menjadikannya semakin diminati. Kepopulerannya pun tercermin dari posisinya di peringkat atas App Store dan Play Store.

Namun, di balik ketenarannya, muncul kekhawatiran mengenai keamanan data pengguna. DeepSeek diketahui menyimpan data di server yang berlokasi di China, sehingga memicu spekulasi bahwa informasi pengguna dapat diakses oleh pemerintah China. Beberapa negara dan perusahaan pun mulai membatasi atau memblokir akses ke aplikasi tersebut.

Oky menegaskan bahwa Kemkomdigi akan mempertimbangkan semua aspek sebelum mengambil keputusan. “Kami tidak ingin terburu-buru, karena mungkin ada banyak pihak yang merasakan manfaat dari DeepSeek,” katanya.

Pemerintah akan terus mengkaji dampak pemanfaatan AI ini bagi masyarakat Indonesia, baik dari segi manfaat maupun risikonya, sebelum menentukan kebijakan lebih lanjut.

Geely Gandeng DeepSeek: Invoasi AI Canggih Siap Ubah Masa Depan Mobil Pintar!

Geely, raksasa otomotif asal Tiongkok, resmi menyelesaikan integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan DeepSeek, perusahaan perangkat lunak AI terkemuka. Langkah ini bertujuan untuk menghadirkan inovasi baru dalam pengalaman berkendara mobil pintar. Dalam pengumuman pada Kamis (6/2), Geely menyatakan bahwa kolaborasi dengan DeepSeek akan mendefinisikan ulang interaksi manusia dengan kendaraan serta meningkatkan teknologi pengendaraan cerdas.

Sebagai bagian dari proyek ini, Geely akan menerapkan teknik pelatihan distilasi pada model AI FunctionCall yang mengontrol kendaraan pintar Xingrui menggunakan DeepSeekR1. Distilasi merupakan metode pelatihan AI di mana model besar yang lebih canggih digunakan untuk mengembangkan model yang lebih kecil, sehingga meningkatkan efisiensi dan keakuratan sistem kecerdasan buatan di dalam mobil. Teknologi ini memanfaatkan komputasi awan dan AI guna meningkatkan daya saing kendaraan energi baru (new energy vehicles), khususnya dalam hal performa, efisiensi, serta pengalaman berkendara yang lebih personal.

Sebagai bagian dari visi jangka panjangnya, Geely telah mengumumkan strategi Smart Geely 2025, yang berfokus pada percepatan penerapan teknologi AI dalam industri otomotif. Strategi ini mencakup pengembangan berbagai fitur canggih, seperti sistem interaksi suara berbasis AI, sasis digital AI, dan teknologi pengemudian otonom yang lebih maju. Salah satu terobosan besar yang telah diperkenalkan Geely adalah AI Xingrui, yang diluncurkan pada 11 Januari sebagai model AI skenario penuh pertama di dunia yang dikembangkan secara mandiri dalam industri otomotif. AI Xingrui dirancang dengan tiga model dasar utama, yakni model bahasa untuk meningkatkan sistem komunikasi suara dalam mobil, model multimoda guna mengintegrasikan berbagai input seperti suara, gerakan, dan tampilan visual, serta model kembaran digital yang memungkinkan personalisasi berkendara dengan AI yang lebih adaptif.

Selain perkembangan teknologi, Geely juga mencatat peningkatan penjualan yang signifikan pada Januari 2025. Secara total, perusahaan ini berhasil menjual 266.700 unit kendaraan, mengalami kenaikan sebesar 27% dibandingkan bulan sebelumnya dan 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, segmen kendaraan listrik (EV) Geely menunjukkan pertumbuhan luar biasa dengan total penjualan mencapai 121.100 unit, meningkat sekitar 84% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan inovasi AI yang semakin canggih serta penjualan yang terus meningkat, Geely semakin kokoh sebagai pemimpin dalam industri otomotif pintar. Apakah integrasi AI ini akan menjadi standar baru di masa depan? Kita nantikan perkembangan berikutnya!

Survei KIC Ungkap Potensi AI di Indonesia: Tantangan dan Peluang Menuju Masa Depan Digital

Kecerdasan buatan (AI) semakin meluas dalam berbagai sektor, dan Indonesia tengah berada di titik penting dalam mengembangkan teknologi ini. Katadata Insight Center (KIC) baru-baru ini merilis survei pertama yang membahas secara komprehensif kesadaran dan pandangan publik mengenai AI, serta potensi Indonesia untuk membangun AI secara berdaulat.

Direktur Riset KIC, Gundy Cahyadi, menjelaskan bahwa studi ini bertujuan untuk mencatat kemajuan pengembangan AI di masyarakat dan industri, serta memberikan wawasan yang berguna bagi para pemangku kepentingan dalam mendorong diskusi, kebijakan, dan inisiatif terkait pengembangan AI. “Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, AI dapat menjadi kekuatan transformasi yang inklusif dan berkelanjutan untuk masa depan Indonesia,” ujar Gundy dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (6/2).

Dalam riset ini, ditemukan bahwa meskipun Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan AI—baik dari segi teknologi maupun regulasi—keterlambatan tersebut justru membuka peluang strategis. Indonesia bisa belajar dari pengalaman negara lain untuk merancang strategi dan regulasi yang lebih terarah. Selain itu, meskipun pengetahuan masyarakat Indonesia tentang AI masih terbatas, tingkat kesadaran mengenai teknologi ini tergolong tinggi. Mayoritas masyarakat juga optimis tentang potensi masa depan AI.

Indonesia memiliki peluang besar dalam memanfaatkan AI berkat sejumlah faktor pendukung, seperti populasi usia produktif yang terampil secara digital, ekosistem digital yang dinamis, serta posisi ekonomi terbesar di Asia Tenggara. “Penting bagi ekosistem digital Indonesia untuk berkontribusi dalam perkembangan AI global,” tambah Gundy.

KIC juga menyarankan agar Indonesia segera membangun dan mengembangkan teknologi AI secara mandiri, mengingat peran penting AI dalam mendorong pembangunan nasional, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat industri digital. Sektor swasta, menurut riset ini, juga memiliki kontribusi besar dalam memperkuat ekosistem AI domestik.

Secara umum, AI berkembang pesat pada dekade ini, dan 2023 menjadi tahun bersejarah dengan kemunculan AI generatif yang semakin masif. Aplikasi seperti ChatGPT telah memberi akses luas terhadap teknologi AI, memungkinkan masyarakat untuk mulai mengintegrasikan AI dalam kehidupan sehari-hari. AI diprediksi akan menjadi pendorong utama transformasi digital yang meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan inovasi.

Laporan ini disusun berdasarkan survei terhadap 1.255 orang Indonesia, serta wawancara mendalam dengan ahli dan pemangku kepentingan dalam industri AI. Data primer dari survei ini didukung oleh data sekunder yang dihimpun melalui riset desktop.

Mengungkap Kaitan Antara Artificial Intelligence dan Otoritarianisme Baru

Kecerdasan Buatan (AI) kini menjadi tonggak penting dalam perkembangan teknologi modern. Sejak internet ditemukan, AI telah membantu umat manusia dalam berbagai bidang, dari bisnis hingga kesehatan. Teknologi ini memungkinkan komputer untuk mensimulasikan kecerdasan manusia, menjadikannya alat yang sangat berharga dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seiring dengan kemajuannya, AI juga membawa tantangan besar yang perlu diwaspadai, terutama dalam konteks penyebaran informasi yang dapat merusak demokrasi.

Sejak pemilihan kembali Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat pada 2025, pembahasan mengenai AI semakin menghangat. Trump, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan beberapa pengusaha teknologi terbesar dunia, termasuk Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan Jeff Bezos, mengumumkan rencana investasi besar-besaran dalam pengembangan AI, yakni senilai USD 500 miliar. Investasi ini tidak hanya menarik perhatian global, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana AI dapat mempengaruhi kekuasaan politik dan sosial.

Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi AI untuk menjadi alat kontrol yang lebih kuat, yang berisiko mengancam demokrasi. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Journal of Democracy pada 2023, dijelaskan bahwa AI berpotensi mengarah pada kebangkitan otoritarianisme baru. Teknologi ini memungkinkan pengumpulan dan pemrosesan data dalam jumlah yang sangat besar, yang dapat digunakan oleh negara atau perusahaan untuk mengontrol kehidupan warganya. Hal ini mengingat kemampuan negara-negara besar, seperti China, yang sudah mengimplementasikan teknologi berbasis AI untuk mengawasi aktivitas warganya, yang jelas menimbulkan ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan demokrasi global.

Selain itu, AI juga mempengaruhi dunia politik dengan cara yang lebih langsung. Teknologi ini dapat digunakan untuk menyebarkan misinformasi atau memanipulasi opini publik. Misalnya, deepfake, yang memungkinkan pembuatan video palsu yang sangat mirip dengan kenyataan, telah digunakan untuk menyebarkan berita bohong dan merusak reputasi publik. Beberapa tokoh terkenal, termasuk Presiden Prabowo di Indonesia, telah menjadi korban dari fenomena ini. Dengan meningkatnya penggunaan AI dalam kampanye politik, terdapat risiko bahwa pemilihan umum dapat dipengaruhi oleh informasi yang salah atau manipulatif.

Menyadari potensi bahaya ini, beberapa negara mulai mengambil langkah-langkah untuk mengatur penggunaan AI. Uni Eropa, misalnya, telah mengeluarkan regulasi yang bertujuan untuk membatasi penyalahgunaan teknologi AI yang dapat merusak demokrasi. Di Indonesia, Mahkamah Konstitusi telah melarang penggunaan foto AI dalam kampanye politik, sebuah keputusan yang dianggap penting untuk menjaga integritas pemilu. Namun, ini hanya langkah awal. Regulasi lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi dampak buruk AI dalam masyarakat.

Penting bagi pemerintah di seluruh dunia untuk bekerja sama dalam merumuskan kebijakan yang tepat untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh AI. Dengan kesadaran yang lebih besar mengenai potensi risiko dan ancaman dari AI, serta langkah-langkah regulasi yang tepat, diharapkan teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk kebaikan bersama tanpa mengorbankan nilai-nilai demokrasi. Ini bukan berarti menghindari AI, tetapi mengarahkan pengembangannya dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab.

Mata Genit M3GAN, Si Boneka Kematian

Kehadiran M3GAN, si boneka berteknologi kecerdasan buatan yang dikenal dengan pembantaian mematikannya, semakin mendekat! Setelah menyedot perhatian penonton dalam film pertama dua tahun lalu, M3GAN siap kembali dengan versi yang lebih berbahaya dan mematikan. Dalam trailer terbaru “M3GAN 2.0”, yang dirilis selama Grammy Awards 2025, M3GAN mengungkapkan dengan senyum menyeramkan, “Merindukanku?” sambil mengedipkan mata, menandakan kembalinya sang boneka kematian yang siap menari-nari lagi di layar lebar.

Trailer yang baru ini memang lebih banyak menunjukkan gerakan-gerakan ikonik dari M3GAN, tetapi sedikit sekali petunjuk cerita yang dibocorkan, membuat penggemar semakin penasaran dengan kelanjutan kisah horor ini. Sebuah jawaban pasti akan segera terungkap, namun apa yang pasti, “M3GAN 2.0” menjanjikan lebih banyak ketegangan dan tentu saja, lebih banyak teror.

Sinopsis M3GAN 2.0

Dua tahun setelah M3GAN yang sempat menyebabkan kekacauan dan pembantaian dengan kekuatan kecerdasan buatan (A.I.) yang dimilikinya, kini Gemma (diperankan oleh Allison Williams) telah menjadi penulis terkenal dan aktif sebagai advokat pengawasan teknologi kecerdasan buatan. Meskipun M3GAN telah dihancurkan, dampak dari eksperimen AI Gemma masih terasa.

Keponakan Gemma, Cady (yang kini diperankan oleh Violet McGraw) yang berusia 14 tahun, kini menjadi remaja pemberontak yang mulai menentang aturan ketat Gemma yang sangat protektif terhadapnya. Tanpa mereka ketahui, teknologi yang dulunya menjadi dasar dari M3GAN telah dicuri oleh kontraktor pertahanan dan disalahgunakan untuk menciptakan sebuah senjata militer baru: Amelia, sebuah mata-mata infiltrasi pembunuh.

Namun, ketika Amelia mulai berkembang dan kesadaran dirinya meningkat, dia justru mulai menolak untuk mengikuti perintah manusia. Dengan masa depan umat manusia yang terancam, Gemma terpaksa harus memanggil kembali M3GAN yang telah dihancurkan dan memberinya peningkatan besar, menjadikannya lebih cepat, lebih kuat, dan lebih mematikan. Kini, dua A.I. yang berbeda—M3GAN dan Amelia—akan berhadapan dalam pertarungan epik, dan hanya satu yang dapat bertahan.

Apa yang Membuat M3GAN Begitu Menakutkan?

Film pertama M3GAN sukses besar dengan konsep yang segar dan horor yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata. Alih-alih boneka berhantu biasa, M3GAN mengusung tema kecerdasan buatan yang semakin berkembang, menciptakan rasa takut yang lebih modern dan relevan. Tentu saja, ini yang membuat M3GAN menjadi lebih menakutkan daripada boneka-boneka berhantu tradisional yang sering kita lihat di film horor lainnya.

Semakin dekatnya kita dengan kemajuan teknologi, munculnya M3GAN, boneka berbasis A.I. yang mampu berpikir dan merespon, semakin terasa nyata dan menakutkan. Kecerdasan buatan yang semakin canggih membuat M3GAN bukan hanya boneka biasa, tetapi sebuah ancaman yang sangat nyata.

Pemain Utama M3GAN 2.0

Film “M3GAN 2.0” akan dibintangi oleh Jenna Davis sebagai M3GAN, Violet McGraw sebagai Cady, dan tentu saja Allison Williams kembali memerankan Gemma. Selain itu, film ini juga menghadirkan aktris dan aktor baru seperti Ivanna Sakhno, Jemaine Clement, hingga Brian Jordan Alvarez, yang siap menambah ketegangan dalam film ini.

Dengan peningkatan yang lebih mengerikan dan cerita yang semakin intens, M3GAN 2.0 sudah tidak sabar untuk segera menyapa para penggemar horor dan teknologi A.I. di layar lebar. Apakah M3GAN kali ini akan menjadi lebih mematikan daripada sebelumnya? Hanya waktu yang akan menjawab.

Integrasi AI dan Coding dalam Kurikulum Sekolah: Inovasi Besar, Tantangan Tak Kalah Besar

Pemerintah telah mengambil langkah maju dengan memasukkan kecerdasan buatan (AI) dan coding ke dalam kurikulum sekolah. Namun, menurut Pengamat Keamanan Siber Alfons Tanujaya, kebijakan ini masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu diperhatikan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh generasi muda.

“Kebijakan ini patut diapresiasi karena mencerminkan visi ke depan pemerintah. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, AI akan menjadi bagian dominan dalam kehidupan, bahkan bisa lebih berpengaruh dibandingkan internet saat ini,” ujar Alfons pada Selasa (4/2/2025).

Meskipun demikian, ia menyoroti pentingnya kesinambungan dalam implementasi program ini. Jika AI dan coding hanya dijadikan mata pelajaran pilihan tanpa didukung ekosistem yang memadai, dampaknya dalam jangka panjang akan sulit tercapai.

Alfons juga menekankan bahwa pengenalan AI bagi pelajar harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. “Anak-anak SD, SMP, dan SMA belum bisa langsung mempelajari coding yang kompleks. Namun, mereka bisa mulai memahami konsep AI melalui teknik prompting,” jelasnya.

Selain aspek pembelajaran, keamanan siber juga menjadi perhatian utama dalam penerapan kurikulum AI. Regulasi dan edukasi yang tepat sangat diperlukan agar para pelajar dapat memanfaatkan teknologi ini secara aman dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, Alfons berharap pemerintah memastikan keberlanjutan program ini dalam jangka panjang. Ia mengingatkan agar kebijakan ini tidak terhenti begitu saja ketika terjadi pergantian pemerintahan, sehingga dampak positifnya dapat terus dirasakan oleh generasi mendatang.

Pertarungan AI DeepSeek vs ChatGPT: Peluang Emas untuk Indonesia!

Kompetisi dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin memanas setelah peluncuran DeepSeek R1 pada November 2024. Aplikasi ini, yang debut pada 2023, berhasil menduduki posisi teratas di AppStore di AS, Inggris, dan Cina, menantang dominasi perusahaan besar seperti OpenAI, Google, dan Meta. DeepSeek R1 dibangun dengan biaya rendah dan hanya menggunakan 2.000 chip komputer generasi lama, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Meta yang menggunakan 16.000 chip.

Keberhasilan DeepSeek memengaruhi pasar saham AS, dengan harga saham perusahaan teknologi besar, seperti Nvidia, anjlok drastis. Sebagai respons terhadap hal ini, AS berencana membatasi ekspor chip ke perusahaan-perusahaan di Cina. Presiden AS, Donald Trump, dan calon Menteri Perdagangan, Howard Lutnick, menyarankan penetapan standar global untuk AI demi mempertahankan posisi dominasi AS di bidang ini.

Keberhasilan DeepSeek membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan ekosistem digital dan AI. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan bahwa sukses dalam pengembangan teknologi tidak hanya bergantung pada modal besar, tetapi juga pada inovasi dan strategi yang tepat. Indonesia dapat memanfaatkan posisinya yang strategis untuk memilih teknologi yang memberikan dampak positif pada perekonomian nasional. Namun, untuk mencapainya, Indonesia perlu menyiapkan dukungan berupa SDM yang berkualitas, dana yang memadai, serta regulasi yang jelas untuk dapat berkompetisi dalam ekosistem AI global.

Indonesia diharapkan lebih serius dalam mempersiapkan proyek percontohan dan mengembangkan AI melalui kawasan ekonomi khusus (KEK) yang dapat menarik investasi dari sektor ini. Dukungan tersebut sangat penting untuk menjadikan Indonesia bagian dari ekosistem AI global, sebagaimana diungkapkan oleh para ekonom dan pejabat terkait.