Tag Archives: Kecerdasan Buatan

https://mezzojane.com

AI AuroraLLM Hadir! Siap Percepat Transformasi Industri di Tanah Air

Volantis Technology resmi menghadirkan AuroraLLM, model kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan sektor industri dan bisnis di Indonesia. Dengan keunggulan seperti akses offline, keamanan data yang terjamin, serta fleksibilitas dalam pengelolaan informasi, AuroraLLM diharapkan dapat menjadi solusi yang mampu meningkatkan efisiensi serta mendukung pengambilan keputusan berbasis AI di berbagai sektor.

CEO Volantis Technology, Bachtiar Rifai, menyatakan bahwa kehadiran AuroraLLM merupakan bagian dari langkah strategis dalam mempercepat transformasi digital nasional.

“Kami berupaya menghadirkan teknologi AI yang tidak hanya canggih, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan industri dalam negeri. Dengan akses offline dan kendali penuh atas data, AuroraLLM menawarkan solusi yang aman dan efisien bagi perusahaan,” ujar Bachtiar dalam acara peluncuran yang berlangsung di Jakarta, Selasa (11/2).

Solusi AI yang Fleksibel dan Bisa Dikustomisasi

Salah satu fitur unggulan AuroraLLM adalah kemampuannya untuk beroperasi tanpa koneksi internet, menjadikannya solusi tepat bagi sektor yang menghadapi kendala jaringan, seperti manufaktur, pertambangan, dan logistik.

Selain itu, teknologi ini dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan bisnis. AuroraLLM bisa diprogram dengan karakteristik tertentu, seperti asisten bisnis, analis data, atau penasihat keuangan, sehingga mampu memberikan interaksi yang lebih personal dan relevan dengan kebutuhan industri masing-masing.

Teknologi ini juga dilengkapi dengan Retrieval-Augmented Generation (RAG), yang memungkinkan perusahaan mengelola data lebih efisien, melakukan analisis laporan keuangan, riset pasar, hingga manajemen dokumen operasional.

“Fitur ini sangat berguna bagi perusahaan yang membutuhkan dokumentasi percakapan serta analisis data dengan tingkat keamanan tinggi,” tambah Bachtiar.

Keamanan Data dan Kepatuhan terhadap Regulasi

Dalam dunia bisnis dan industri, perlindungan data menjadi aspek yang sangat penting. Untuk itu, AuroraLLM dilengkapi dengan fitur log audit aktivitas pengguna, yang memungkinkan perusahaan melacak setiap akses dan perubahan data secara transparan.

Selain itu, AI ini juga mendukung manajemen kebijakan, memungkinkan pengguna mengatur sensor informasi, gaya komunikasi, hingga preferensi bahasa yang digunakan. Dengan fitur ini, AuroraLLM dapat diterapkan di sektor yang memiliki regulasi ketat, seperti perbankan, kesehatan, dan pemerintahan, tanpa mengorbankan standar keamanan data.

“Perusahaan yang beroperasi di sektor dengan regulasi ketat, seperti keuangan dan kesehatan, bisa menggunakan AuroraLLM tanpa perlu khawatir soal privasi dan transparansi,” jelas Bachtiar.

Lebih lanjut, sistem pelabelan data terstruktur yang diterapkan pada AuroraLLM membantu perusahaan dalam mengelola informasi lebih efisien, mempercepat analisis data, serta menghasilkan keputusan bisnis yang lebih akurat.

Mendukung Digitalisasi dan Efisiensi Operasional

Peluncuran AuroraLLM selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana digitalisasi menjadi faktor utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan menghadirkan teknologi AI yang dapat diakses secara luas dan fleksibel, Volantis Technology berharap dapat membantu industri Indonesia dalam mempercepat adopsi teknologi digital.

“Kami berkomitmen untuk menghadirkan AI sebagai mitra strategis yang mendukung perkembangan industri di Indonesia, bukan sekadar teknologi terbatas untuk kalangan tertentu”, perusahaan dari berbagai sektor dapat memanfaatkan AI tanpa kendala akses,” ujar Bachtiar.

Dengan peluncuran AuroraLLM, Volantis Technology bukan hanya menghadirkan inovasi AI yang kompetitif, tetapi juga turut berkontribusi dalam membangun ekosistem teknologi di Indonesia. Keunggulan dalam keamanan, fleksibilitas, serta kustomisasi menjadikan AuroraLLM sebagai pilihan utama bagi perusahaan yang ingin beradaptasi dengan era digital secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Indonesia Kembangkan AI Lokal, Anak Muda Berbakat Siap Presentasi ke Presiden

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan bahwa pemerintah telah merekrut sejumlah anak muda berbakat di Indonesia untuk mengembangkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) buatan dalam negeri.

“Saat ini, ada beberapa anak muda Indonesia yang telah kami rekrut, dan mereka tengah bekerja mengembangkan AI,” ujar Luhut di Jakarta, Selasa (18/2).

Ia juga menyebutkan bahwa dalam dua pekan ke depan, tim pengembang AI tersebut akan mempresentasikan hasil kerja mereka langsung kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.

“Dalam waktu sekitar dua minggu, mereka akan melakukan presentasi kepada Presiden,” tambahnya.

AI yang sedang dikembangkan ini nantinya akan mendukung penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta diharapkan dapat memperkuat digitalisasi di Tanah Air.

“Yang terpenting, dengan adanya digitalisasi ini, Indonesia bisa menjadi negara yang lebih efisien,” jelas Luhut.

Namun, ia juga menyoroti bahwa pengembangan AI memerlukan biaya yang cukup besar karena menggunakan sistem open-source.

Di sisi lain, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini masih dalam proses mengeksplorasi teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memaksimalkan potensinya dalam pengembangan di Indonesia.

Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), menyatakan bahwa pemerintah masih mengkaji perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari inovasi digital di Indonesia. Ia menambahkan bahwa hasil pengembangan AI dari DeepSeek bisa menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk mendukung ekosistem AI dalam negeri. Hal ini disampaikannya saat ditemui di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, pada Senin (17/2).

Pada awal 2025, DeepSeek sempat menggemparkan dunia dengan peluncuran model kecerdasan buatan terbaru mereka, DeepSeek R1. Model AI ini menarik perhatian global karena dapat digunakan secara gratis oleh banyak pengguna.

Namun, startup asal China tersebut menghadapi pelarangan dan pembatasan di beberapa negara karena dianggap berpotensi menimbulkan ancaman terhadap keamanan siber. Negara-negara yang telah membatasi atau melarang penggunaan DeepSeek meliputi Korea Selatan, Italia, Australia, dan Taiwan.

Google Hapus Prinsip “Jangan Berbuat Jahat” dan Tunjukkan Dukungan pada Pengembangan AI Militer

Google baru-baru ini menghapus kalimat “jangan berbuat jahat” yang selama bertahun-tahun menjadi prinsip dasar perusahaan, bersama dengan komitmennya untuk tidak mengembangkan teknologi yang membahayakan atau digunakan untuk pengawasan. Langkah ini muncul dalam pembaruan kebijakan yang dipublikasikan pada halaman “Prinsip-Prinsip Kecerdasan Buatan (AI)” perusahaan.

Pernyataan baru tersebut menegaskan bahwa “dalam lanskap geopolitik yang semakin kompleks, ada kompetisi global untuk memimpin dalam pengembangan AI.” Google berpendapat bahwa negara demokrasi harus memimpin dalam bidang ini, dan penghapusan komitmen sebelumnya dipandang sebagai tanda bahwa perusahaan ini mulai terbuka terhadap penggunaan teknologi AI untuk tujuan militer.

Penggunaan AI dalam peperangan semakin meningkat, dengan teknologi ini diterapkan di medan perang seperti Ukraina dan Gaza. Perusahaan teknologi seperti OpenAI, Meta, dan Anthropic kini memiliki proyek-proyek AI yang bekerja sama dengan militer AS atau kontraktor pertahanan. AI, khususnya dalam penggunaan drone, semakin berperan penting dalam penentuan target dan serangan otonom.

Sejarah hubungan Google dengan militer bukanlah hal baru. Pada 2017, meskipun mengedepankan prinsip “jangan berbuat jahat,” Google terlibat dalam Project Maven, sebuah proyek penargetan militer untuk Departemen Pertahanan AS. Meskipun proyek ini dihentikan setelah protes karyawan, Google kembali terlibat dalam kontrak militer besar lainnya, termasuk Project Nimbus dengan pemerintah Israel. Kontrak ini bernilai $1,2 miliar dan digunakan untuk layanan komputasi awan serta pengawasan dalam konflik di Gaza.

Bagi para pengamat, termasuk peneliti AI Stuart Russell, perubahan kebijakan ini menunjukkan arah baru yang mencemaskan dalam penggunaan AI. “Keputusan ini terjadi bersamaan dengan pemerintahan yang menghapus banyak regulasi tentang AI dan kini lebih fokus pada penggunaan AI untuk tujuan militer,” ujar Russell.

Semakin cepatnya perkembangan AI dan ketakutan akan ketertinggalan teknologi di pasar global semakin mendorong pemerintah dan perusahaan untuk beradaptasi, meskipun hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang etika dan dampak sosial yang lebih besar.

Meta Masuki Era Robotika: Fokus Kembangkan Robot Humanoid untuk Bantu Pekerjaan Rumah

Meta, perusahaan teknologi yang sebelumnya dikenal dengan produk media sosial dan perangkat kerasnya, kini berambisi untuk memimpin inovasi dalam dunia robotika. Perusahaan ini telah membentuk tim baru di bawah divisi Reality Labs yang fokus pada pengembangan robot humanoid, dengan tujuan untuk menciptakan robot serbaguna yang dapat membantu dalam tugas-tugas rumah tangga sehari-hari. Langkah ini menunjukkan ambisi Meta untuk merambah lebih jauh ke sektor teknologi yang berkembang pesat ini.

Tim robotika ini dipimpin oleh March Whitten, seorang profesional berpengalaman yang sebelumnya menjabat sebagai CEO di startup mobil otonom Cruise, serta memiliki pengalaman di perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Microsoft, dan Sonos. Pengalaman Whitten dalam berbagai perusahaan teknologi ini diharapkan dapat membawa Meta lebih dekat pada tujuannya untuk menciptakan robot dengan kemampuan canggih.

Tidak hanya perangkat keras yang akan dikembangkan, tetapi tim ini juga akan fokus pada pengembangan perangkat lunak robotika dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kinerja robot humanoid tersebut. Namun, rencana awal Meta bukanlah untuk merilis robot bermerek mereka sendiri. Sebaliknya, perusahaan ini lebih memilih untuk membangun fondasi perangkat keras yang dapat digunakan di pasar robotika global, serupa dengan pencapaian Google dengan sistem operasi Android di dunia ponsel pintar.

Selain itu, Meta dikabarkan juga sedang melakukan penjajakan kerja sama dengan perusahaan robotika lainnya, seperti Unitree Robotics dan Figure AI, untuk mempercepat pengembangan prototipe robot humanoid dan menjajaki potensi kolaborasi dalam menciptakan teknologi robotika yang lebih maju.

Pengaruh AI pada Otak Manusia: Apakah Kita Jadi Makin Pintar atau Malas Berpikir?

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin meluas di dunia kerja dapat membawa dampak positif, namun sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa kecanduan terhadap teknologi ini ternyata bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Microsoft bekerja sama dengan Carnegie Mellon University mengungkapkan bahwa terlalu sering mengandalkan AI dalam menyelesaikan tugas-tugas profesional dapat berisiko membuat otak menjadi “tumpul.”

Penelitian ini melibatkan 319 pekerja yang sehari-harinya berhubungan dengan pengolahan data dan informasi. Para peneliti meminta peserta untuk memberikan laporan mengenai bagaimana mereka memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka, mulai dari tingkat kepercayaan terhadap hasil yang diberikan AI, cara mereka mengevaluasi jawaban AI, hingga keyakinan mereka untuk menyelesaikan tugas tanpa bantuan AI.

Hasil riset menunjukkan pola menarik. Pertama, para pekerja yang semakin mempercayai kemampuan AI justru semakin jarang mengevaluasi atau mengawasi hasil jawaban dari AI tersebut. Hal ini terutama terlihat pada tugas-tugas yang dianggap mudah atau berisiko rendah. Banyak pekerja yang merasa bahwa menggunakan AI adalah cara yang efisien dan menganggap bahwa AI sudah cukup mampu menyelesaikan tugas tersebut. Beberapa di antara mereka bahkan merasa bahwa memanfaatkan AI dengan optimal adalah bagian dari keterampilan berpikir kritis mereka.

Namun, para peneliti memberi peringatan bahwa kebiasaan ini, meskipun tampak tidak berbahaya, dapat berakibat buruk dalam jangka panjang. Ketergantungan yang berlebihan pada AI dapat mengurangi kemampuan pekerja untuk menyelesaikan masalah secara mandiri dan memperlemah keterampilan berpikir kritis mereka. Dalam kata lain, penggunaan AI tanpa disertai evaluasi atau pertimbangan diri bisa membuat otak manusia “tumpul,” karena otak tidak lagi dilatih untuk berpikir secara mandiri.

Di sisi lain, ketika para pekerja merasa kurang yakin dengan hasil yang diberikan AI, mereka justru lebih sering melatih keterampilan berpikir kritis mereka. Pekerja yang merasa perlu memeriksa dan memperbaiki hasil AI secara aktif cenderung lebih percaya diri dalam menyelesaikan masalah secara mandiri.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa AI cenderung memberikan jawaban yang konsisten dan homogen, karena teknologi ini bekerja berdasarkan data yang telah dilatih sebelumnya. AI tidak dapat menciptakan ide-ide baru secara bebas, dan jika terlalu sering digunakan tanpa tambahan input manusia, hasil yang diberikan cenderung seragam. Hal ini bisa menyebabkan kurangnya kreativitas dan pemikiran baru, yang merupakan inti dari keterampilan berpikir kritis.

Sebagai kesimpulan, meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi kerja, riset ini mengingatkan kita bahwa penggunaannya yang berlebihan tanpa pemikiran kritis dapat mengurangi kemampuan untuk berpikir secara mandiri dan kreatif. Oleh karena itu, penting bagi pekerja untuk tetap mempertahankan keterampilan berpikir kritis mereka meskipun memanfaatkan kemajuan teknologi.

Indonesia di Ujung Digital: Apakah Kita Siap Menyambut Era Baru Teknologi?

Perkembangan teknologi terus melaju dengan pesat, membuka peluang baru di berbagai sektor, termasuk ekonomi digital. Tren ini menarik minat banyak orang untuk terjun ke industri teknologi sebagai jalur karier masa depan. Bahkan, pemerintah turut mendukung pertumbuhan ini dengan berbagai inisiatif dan kebijakan. Salah satu indikator pesatnya perkembangan ekonomi digital di Indonesia adalah proyeksi dari Google yang memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia akan mencapai 146 miliar dolar AS pada 2025.

Kita bisa melihat bukti nyata pertumbuhan ini dari semakin luasnya penggunaan dompet digital dan sistem pembayaran berbasis QRIS yang kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Dalam siniar Obsesif episode “Sinergi Komunitas dalam Ekosistem Digital”, Caron Toshiko, Head of Programmer Skilvul dan Markoding, membahas bagaimana perkembangan teknologi digital di Indonesia semakin berkembang dan apa saja yang diperlukan untuk memaksimalkan potensinya.

Peran SDM dalam Kemajuan Teknologi Digital

Caron, yang memiliki latar belakang dalam psikologi sosial, kini berperan sebagai penghubung antara para pelajar di berbagai daerah di Indonesia dengan program yang dikembangkan oleh Skilvul dan Markoding. Menurutnya, kunci utama bagi Indonesia untuk mencapai target digitalisasi terletak pada sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Jika Indonesia memiliki SDM yang unggul dalam teknologi, maka sektor-sektor lain, termasuk bisnis dan ekonomi, akan semakin berkembang. Salah satu buktinya adalah banyaknya startup lokal yang berhasil meraih status unicorn dalam beberapa tahun terakhir. “Anak muda adalah talenta digital masa kini dan masa depan. Mereka yang akan menentukan arah perkembangan dan kemajuan bangsa kita, terutama dalam bidang inovasi,” ujar Caron.

Ia juga mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memiliki jumlah publikasi ilmiah tentang kecerdasan buatan (AI) yang cukup tinggi, bahkan tertinggi di Asia Tenggara. AI diprediksi akan memberikan kontribusi hingga 366 miliar dolar AS terhadap perekonomian Indonesia pada 2030. Untuk mendukung perkembangan ini, pemerintah menargetkan kebutuhan sembilan juta talenta digital pada 2030, sekaligus menciptakan lebih dari 180 persen pekerjaan baru yang berbasis teknologi.

Peluang Karier di Industri Teknologi untuk Fresh Graduate

Dunia kerja saat ini semakin fleksibel, memungkinkan seseorang untuk berkarier di bidang yang berbeda dari latar belakang pendidikannya. Begitu pula di industri teknologi, di mana seseorang bisa belajar dan mengembangkan keterampilan mereka secara otodidak. Caron menekankan bahwa eksplorasi dan keberanian mencoba hal baru adalah kunci utama dalam industri teknologi.

“Saat kita berbicara tentang teknologi, kita berbicara soal inovasi. Bagaimana kita mau mencoba dan menerima hal-hal baru tanpa takut gagal,” ungkapnya. Oleh karena itu, fresh graduate sebaiknya memiliki pola pikir yang terbuka, serta keterampilan dalam berkolaborasi dan berempati. Menurutnya, selain hard skills, soft skills seperti komunikasi dan kerja sama tim juga menjadi faktor krusial dalam industri teknologi.

Tantangan Pengembangan Teknologi di Indonesia

Meskipun Indonesia memiliki potensi besar dalam ekonomi digital, ada beberapa tantangan yang masih menjadi penghambat utama. Salah satu yang paling krusial adalah kesenjangan pendidikan dan akses teknologi.

Caron menyoroti bahwa kondisi geografis Indonesia yang luas serta infrastruktur yang belum merata menjadi tantangan dalam pemerataan literasi digital. “Di beberapa daerah terpencil, akses internet masih sangat terbatas, bahkan di Pulau Jawa yang padat penduduk masih ada wilayah yang kesulitan mendapatkan fasilitas teknologi yang memadai,” jelasnya.

Padahal, saat pandemi melanda dan sistem pembelajaran daring diterapkan, koneksi internet yang stabil dan perangkat yang mumpuni menjadi kebutuhan utama. Hal ini menunjukkan bahwa sektor teknologi tidak bisa berkembang optimal tanpa dukungan penuh dari pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang memadai. Selain itu, kualitas pengajaran di bidang teknologi juga perlu ditingkatkan agar sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan industri.

Kesimpulan

Pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia membuka banyak peluang, tetapi juga menghadirkan tantangan yang harus diatasi. Untuk mencapai target digitalisasi nasional, diperlukan kerja sama antara pemerintah, industri, dan masyarakat, terutama dalam meningkatkan kualitas SDM serta pemerataan akses teknologi.

Bagi yang ingin mendalami lebih jauh tentang bagaimana komunitas berperan dalam ekosistem digital, siniar Obsesif bertajuk “Sinergi Komunitas dalam Ekosistem Digital” dapat menjadi referensi yang menarik. Dengarkan selengkapnya di Spotify melalui tautan dik.si/ObsesifCaron. Jangan lupa juga untuk mengeksplor berbagai wawasan baru tentang dunia kerja dan teknologi di YouTube Medio by KG Media agar tidak tertinggal informasi terbaru.

Survei KIC Ungkap Potensi AI di Indonesia: Tantangan dan Peluang Menuju Masa Depan Digital

Kecerdasan buatan (AI) semakin meluas dalam berbagai sektor, dan Indonesia tengah berada di titik penting dalam mengembangkan teknologi ini. Katadata Insight Center (KIC) baru-baru ini merilis survei pertama yang membahas secara komprehensif kesadaran dan pandangan publik mengenai AI, serta potensi Indonesia untuk membangun AI secara berdaulat.

Direktur Riset KIC, Gundy Cahyadi, menjelaskan bahwa studi ini bertujuan untuk mencatat kemajuan pengembangan AI di masyarakat dan industri, serta memberikan wawasan yang berguna bagi para pemangku kepentingan dalam mendorong diskusi, kebijakan, dan inisiatif terkait pengembangan AI. “Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, AI dapat menjadi kekuatan transformasi yang inklusif dan berkelanjutan untuk masa depan Indonesia,” ujar Gundy dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (6/2).

Dalam riset ini, ditemukan bahwa meskipun Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan AI—baik dari segi teknologi maupun regulasi—keterlambatan tersebut justru membuka peluang strategis. Indonesia bisa belajar dari pengalaman negara lain untuk merancang strategi dan regulasi yang lebih terarah. Selain itu, meskipun pengetahuan masyarakat Indonesia tentang AI masih terbatas, tingkat kesadaran mengenai teknologi ini tergolong tinggi. Mayoritas masyarakat juga optimis tentang potensi masa depan AI.

Indonesia memiliki peluang besar dalam memanfaatkan AI berkat sejumlah faktor pendukung, seperti populasi usia produktif yang terampil secara digital, ekosistem digital yang dinamis, serta posisi ekonomi terbesar di Asia Tenggara. “Penting bagi ekosistem digital Indonesia untuk berkontribusi dalam perkembangan AI global,” tambah Gundy.

KIC juga menyarankan agar Indonesia segera membangun dan mengembangkan teknologi AI secara mandiri, mengingat peran penting AI dalam mendorong pembangunan nasional, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat industri digital. Sektor swasta, menurut riset ini, juga memiliki kontribusi besar dalam memperkuat ekosistem AI domestik.

Secara umum, AI berkembang pesat pada dekade ini, dan 2023 menjadi tahun bersejarah dengan kemunculan AI generatif yang semakin masif. Aplikasi seperti ChatGPT telah memberi akses luas terhadap teknologi AI, memungkinkan masyarakat untuk mulai mengintegrasikan AI dalam kehidupan sehari-hari. AI diprediksi akan menjadi pendorong utama transformasi digital yang meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan inovasi.

Laporan ini disusun berdasarkan survei terhadap 1.255 orang Indonesia, serta wawancara mendalam dengan ahli dan pemangku kepentingan dalam industri AI. Data primer dari survei ini didukung oleh data sekunder yang dihimpun melalui riset desktop.

Mengungkap Kaitan Antara Artificial Intelligence dan Otoritarianisme Baru

Kecerdasan Buatan (AI) kini menjadi tonggak penting dalam perkembangan teknologi modern. Sejak internet ditemukan, AI telah membantu umat manusia dalam berbagai bidang, dari bisnis hingga kesehatan. Teknologi ini memungkinkan komputer untuk mensimulasikan kecerdasan manusia, menjadikannya alat yang sangat berharga dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seiring dengan kemajuannya, AI juga membawa tantangan besar yang perlu diwaspadai, terutama dalam konteks penyebaran informasi yang dapat merusak demokrasi.

Sejak pemilihan kembali Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat pada 2025, pembahasan mengenai AI semakin menghangat. Trump, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan beberapa pengusaha teknologi terbesar dunia, termasuk Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan Jeff Bezos, mengumumkan rencana investasi besar-besaran dalam pengembangan AI, yakni senilai USD 500 miliar. Investasi ini tidak hanya menarik perhatian global, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana AI dapat mempengaruhi kekuasaan politik dan sosial.

Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi AI untuk menjadi alat kontrol yang lebih kuat, yang berisiko mengancam demokrasi. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Journal of Democracy pada 2023, dijelaskan bahwa AI berpotensi mengarah pada kebangkitan otoritarianisme baru. Teknologi ini memungkinkan pengumpulan dan pemrosesan data dalam jumlah yang sangat besar, yang dapat digunakan oleh negara atau perusahaan untuk mengontrol kehidupan warganya. Hal ini mengingat kemampuan negara-negara besar, seperti China, yang sudah mengimplementasikan teknologi berbasis AI untuk mengawasi aktivitas warganya, yang jelas menimbulkan ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan demokrasi global.

Selain itu, AI juga mempengaruhi dunia politik dengan cara yang lebih langsung. Teknologi ini dapat digunakan untuk menyebarkan misinformasi atau memanipulasi opini publik. Misalnya, deepfake, yang memungkinkan pembuatan video palsu yang sangat mirip dengan kenyataan, telah digunakan untuk menyebarkan berita bohong dan merusak reputasi publik. Beberapa tokoh terkenal, termasuk Presiden Prabowo di Indonesia, telah menjadi korban dari fenomena ini. Dengan meningkatnya penggunaan AI dalam kampanye politik, terdapat risiko bahwa pemilihan umum dapat dipengaruhi oleh informasi yang salah atau manipulatif.

Menyadari potensi bahaya ini, beberapa negara mulai mengambil langkah-langkah untuk mengatur penggunaan AI. Uni Eropa, misalnya, telah mengeluarkan regulasi yang bertujuan untuk membatasi penyalahgunaan teknologi AI yang dapat merusak demokrasi. Di Indonesia, Mahkamah Konstitusi telah melarang penggunaan foto AI dalam kampanye politik, sebuah keputusan yang dianggap penting untuk menjaga integritas pemilu. Namun, ini hanya langkah awal. Regulasi lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi dampak buruk AI dalam masyarakat.

Penting bagi pemerintah di seluruh dunia untuk bekerja sama dalam merumuskan kebijakan yang tepat untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh AI. Dengan kesadaran yang lebih besar mengenai potensi risiko dan ancaman dari AI, serta langkah-langkah regulasi yang tepat, diharapkan teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk kebaikan bersama tanpa mengorbankan nilai-nilai demokrasi. Ini bukan berarti menghindari AI, tetapi mengarahkan pengembangannya dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab.

Mata Genit M3GAN, Si Boneka Kematian

Kehadiran M3GAN, si boneka berteknologi kecerdasan buatan yang dikenal dengan pembantaian mematikannya, semakin mendekat! Setelah menyedot perhatian penonton dalam film pertama dua tahun lalu, M3GAN siap kembali dengan versi yang lebih berbahaya dan mematikan. Dalam trailer terbaru “M3GAN 2.0”, yang dirilis selama Grammy Awards 2025, M3GAN mengungkapkan dengan senyum menyeramkan, “Merindukanku?” sambil mengedipkan mata, menandakan kembalinya sang boneka kematian yang siap menari-nari lagi di layar lebar.

Trailer yang baru ini memang lebih banyak menunjukkan gerakan-gerakan ikonik dari M3GAN, tetapi sedikit sekali petunjuk cerita yang dibocorkan, membuat penggemar semakin penasaran dengan kelanjutan kisah horor ini. Sebuah jawaban pasti akan segera terungkap, namun apa yang pasti, “M3GAN 2.0” menjanjikan lebih banyak ketegangan dan tentu saja, lebih banyak teror.

Sinopsis M3GAN 2.0

Dua tahun setelah M3GAN yang sempat menyebabkan kekacauan dan pembantaian dengan kekuatan kecerdasan buatan (A.I.) yang dimilikinya, kini Gemma (diperankan oleh Allison Williams) telah menjadi penulis terkenal dan aktif sebagai advokat pengawasan teknologi kecerdasan buatan. Meskipun M3GAN telah dihancurkan, dampak dari eksperimen AI Gemma masih terasa.

Keponakan Gemma, Cady (yang kini diperankan oleh Violet McGraw) yang berusia 14 tahun, kini menjadi remaja pemberontak yang mulai menentang aturan ketat Gemma yang sangat protektif terhadapnya. Tanpa mereka ketahui, teknologi yang dulunya menjadi dasar dari M3GAN telah dicuri oleh kontraktor pertahanan dan disalahgunakan untuk menciptakan sebuah senjata militer baru: Amelia, sebuah mata-mata infiltrasi pembunuh.

Namun, ketika Amelia mulai berkembang dan kesadaran dirinya meningkat, dia justru mulai menolak untuk mengikuti perintah manusia. Dengan masa depan umat manusia yang terancam, Gemma terpaksa harus memanggil kembali M3GAN yang telah dihancurkan dan memberinya peningkatan besar, menjadikannya lebih cepat, lebih kuat, dan lebih mematikan. Kini, dua A.I. yang berbeda—M3GAN dan Amelia—akan berhadapan dalam pertarungan epik, dan hanya satu yang dapat bertahan.

Apa yang Membuat M3GAN Begitu Menakutkan?

Film pertama M3GAN sukses besar dengan konsep yang segar dan horor yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata. Alih-alih boneka berhantu biasa, M3GAN mengusung tema kecerdasan buatan yang semakin berkembang, menciptakan rasa takut yang lebih modern dan relevan. Tentu saja, ini yang membuat M3GAN menjadi lebih menakutkan daripada boneka-boneka berhantu tradisional yang sering kita lihat di film horor lainnya.

Semakin dekatnya kita dengan kemajuan teknologi, munculnya M3GAN, boneka berbasis A.I. yang mampu berpikir dan merespon, semakin terasa nyata dan menakutkan. Kecerdasan buatan yang semakin canggih membuat M3GAN bukan hanya boneka biasa, tetapi sebuah ancaman yang sangat nyata.

Pemain Utama M3GAN 2.0

Film “M3GAN 2.0” akan dibintangi oleh Jenna Davis sebagai M3GAN, Violet McGraw sebagai Cady, dan tentu saja Allison Williams kembali memerankan Gemma. Selain itu, film ini juga menghadirkan aktris dan aktor baru seperti Ivanna Sakhno, Jemaine Clement, hingga Brian Jordan Alvarez, yang siap menambah ketegangan dalam film ini.

Dengan peningkatan yang lebih mengerikan dan cerita yang semakin intens, M3GAN 2.0 sudah tidak sabar untuk segera menyapa para penggemar horor dan teknologi A.I. di layar lebar. Apakah M3GAN kali ini akan menjadi lebih mematikan daripada sebelumnya? Hanya waktu yang akan menjawab.

Integrasi AI dan Coding dalam Kurikulum Sekolah: Inovasi Besar, Tantangan Tak Kalah Besar

Pemerintah telah mengambil langkah maju dengan memasukkan kecerdasan buatan (AI) dan coding ke dalam kurikulum sekolah. Namun, menurut Pengamat Keamanan Siber Alfons Tanujaya, kebijakan ini masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu diperhatikan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh generasi muda.

“Kebijakan ini patut diapresiasi karena mencerminkan visi ke depan pemerintah. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, AI akan menjadi bagian dominan dalam kehidupan, bahkan bisa lebih berpengaruh dibandingkan internet saat ini,” ujar Alfons pada Selasa (4/2/2025).

Meskipun demikian, ia menyoroti pentingnya kesinambungan dalam implementasi program ini. Jika AI dan coding hanya dijadikan mata pelajaran pilihan tanpa didukung ekosistem yang memadai, dampaknya dalam jangka panjang akan sulit tercapai.

Alfons juga menekankan bahwa pengenalan AI bagi pelajar harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. “Anak-anak SD, SMP, dan SMA belum bisa langsung mempelajari coding yang kompleks. Namun, mereka bisa mulai memahami konsep AI melalui teknik prompting,” jelasnya.

Selain aspek pembelajaran, keamanan siber juga menjadi perhatian utama dalam penerapan kurikulum AI. Regulasi dan edukasi yang tepat sangat diperlukan agar para pelajar dapat memanfaatkan teknologi ini secara aman dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, Alfons berharap pemerintah memastikan keberlanjutan program ini dalam jangka panjang. Ia mengingatkan agar kebijakan ini tidak terhenti begitu saja ketika terjadi pergantian pemerintahan, sehingga dampak positifnya dapat terus dirasakan oleh generasi mendatang.