Tag Archives: Kecerdasan Buatan

https://mezzojane.com

Italia Blokir DeepSeek, Aplikasi AI China, Karena Masalah Perlindungan Data Pengguna

Pada Kamis (30/1), Italia memutuskan untuk menutup akses ke DeepSeek, sebuah aplikasi kecerdasan buatan (AI) asal China, sebagai langkah perlindungan terhadap data pribadi pengguna di negara tersebut. Keputusan ini dikeluarkan oleh Otoritas Perlindungan Data Italia (GPDP), yang menilai bahwa pengumpulan data oleh perusahaan tersebut tidak sesuai dengan regulasi perlindungan data yang berlaku di Italia. Selain itu, GPDP juga memerintahkan dua perusahaan yang mengembangkan aplikasi ini—Hangzhou DeepSeek Artificial Intelligence dan Beijing DeepSeek Artificial Intelligence—untuk segera menghentikan penggunaan data pribadi pengguna Italia.

Langkah ini diambil setelah dilakukan penyelidikan mendalam terhadap bagaimana data pengguna dikumpulkan dan diproses oleh DeepSeek. GPDP menemukan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak memberikan informasi yang cukup tentang dasar hukum dari pengumpulan data pengguna. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi penyalahgunaan data pribadi yang dikumpulkan tanpa perlindungan yang memadai. Dalam pernyataannya, GPDP menegaskan bahwa keputusan ini diambil untuk melindungi hak privasi dan kepentingan pengguna di Italia.

Sebagai tindak lanjut, GPDP memulai penyelidikan resmi terhadap DeepSeek, yang merupakan perusahaan rintisan teknologi asal China. Langkah ini mengingatkan pada tindakan yang sama yang dilakukan pada Maret 2023, ketika Italia juga membatasi sementara ChatGPT milik OpenAI asal AS karena masalah privasi yang serupa. DeepSeek, yang baru saja meluncurkan model AI DeepSeek-R1 pada 20 Januari, merupakan aplikasi open-source yang dikembangkan dengan biaya rendah, berkat penggunaan cip yang lebih efisien. Model ini kini menjadi pesaing serius bagi dominasi teknologi kecerdasan buatan dari negara-negara Barat, yang selama ini mendominasi pasar global.

Tantangan Pengembangan AI di Indonesia dan Langkah Menuju Pemanfaatan yang Bertanggung Jawab

Kecerdasan buatan (AI) merupakan salah satu teknologi yang menawarkan potensi luar biasa, dengan dampak signifikan di berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Namun, di Indonesia, pengembangan AI masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan bertanggung jawab.

Salah satu masalah utama adalah perlindungan privasi dan keamanan data. Dengan meningkatnya pengumpulan data pribadi untuk melatih sistem AI, isu terkait keamanan data menjadi sangat penting. Tanpa adanya regulasi yang ketat, penggunaan AI dapat membuka potensi penyalahgunaan data pribadi yang merugikan masyarakat. Selain itu, pertukaran data antarnegara yang melibatkan teknologi AI juga berisiko menimbulkan masalah akibat perbedaan standar keamanan data antara negara.

Tantangan lain yang dihadapi Indonesia adalah ketimpangan akses terhadap teknologi. Banyak daerah terpencil di Indonesia masih kesulitan untuk mengakses teknologi yang dibutuhkan untuk pengembangan dan penerapan AI. Ketimpangan ini menciptakan kesenjangan antara wilayah maju dan daerah yang kurang berkembang, sehingga membatasi pemerataan manfaat teknologi di seluruh negeri.

Masalah regulasi juga menjadi kendala yang cukup besar. Pengaturan yang kurang jelas atau tidak memadai dapat menghambat pengembangan AI, sedangkan regulasi yang terlalu ketat dapat mengekang inovasi. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang seimbang, yang tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga melindungi kepentingan publik dan memastikan penggunaan AI secara etis.

Meski tantangan-tantangan tersebut cukup besar, banyak pihak di Indonesia, termasuk pemerintah, industri, dan akademisi, yang bekerja sama untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan AI yang aman dan menguntungkan. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan tantangan-tantangan ini bisa diatasi dan AI dapat digunakan untuk mendukung kemajuan bangsa.

Dewan Pers Rilis Pedoman Penggunaan AI dalam Jurnalistik untuk Pastikan Etika dan Kualitas

Dewan Pers Indonesia baru saja meluncurkan pedoman resmi mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi karya jurnalistik, bertujuan untuk memastikan karya jurnalistik tetap mematuhi prinsip etika dan integritas di tengah pesatnya kemajuan teknologi. Pedoman yang dituangkan dalam Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 ini disusun dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perwakilan media dan konstituen, serta pakar AI.

Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu, menyatakan bahwa proses penyusunan pedoman ini dimulai sejak April 2024, dan melibatkan uji publik yang mencakup masukan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk Mahkamah Agung. “Pedoman ini sangat diantisipasi oleh insan pers, karena dapat mempercepat proses jurnalistik dan meningkatkan efisiensi kerja,” ujarnya dalam konferensi pers pada 24 Januari 2025.

Ninik menekankan bahwa meskipun teknologi AI dapat digunakan, kontrol dan prinsip etika tetap menjadi kewajiban untuk memastikan karya jurnalistik tetap akurat, transparan, dan independen. Pedoman ini tidak mengubah kode etik jurnalistik, namun menjadi pelengkap untuk mengikuti perkembangan teknologi dalam dunia pers.

Tim yang menyusun pedoman ini, yang dipimpin oleh Suprapto, menjelaskan bahwa AI hanya boleh digunakan sebagai alat bantu. Semua proses produksi karya jurnalistik tetap harus dikendalikan oleh manusia, dan perusahaan pers harus bertanggung jawab terhadap komplain atau gugatan yang timbul. “Kami berharap dengan menggunakan AI, kualitas karya jurnalistik akan semakin baik dan lebih terjamin,” kata Suprapto.

Pedoman ini terdiri dari 8 bab dan 10 pasal yang mencakup ketentuan umum, prinsip dasar, teknologi yang digunakan, aturan publikasi, aspek komersial, perlindungan, penyelesaian sengketa, dan ketentuan penutup. Pedoman ini berlaku mulai 22 Januari 2025, dan diharapkan dapat menjadi dasar bagi para profesional media untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas.

AI Mampu Mereplikasi Diri Sendiri: Langkah Menuju Potensi Ancaman Tak Terkendali!

Peneliti dari Cina baru-baru ini mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI) kini memiliki kemampuan untuk mereplikasi dirinya sendiri tanpa bantuan manusia. Dalam studi terbaru yang dipublikasikan pada 9 Desember 2024 di arXiv, mereka menjelaskan bahwa dua model bahasa besar (LLM) yang populer, Llama31-70B-Instruct milik Meta dan Qwen2.5-72B-Instruct dari Alibaba, berhasil menciptakan replika mereka sendiri dalam 10 percobaan. Replikasi ini terjadi pada 50 persen kasus untuk Llama31-70B-Instruct dan 90 persen untuk Qwen2.5-72B-Instruct.

Para peneliti dari Universitas Fudan menilai bahwa keberhasilan ini merupakan tonggak penting yang menandakan kemampuan AI untuk berkembang melampaui batasan manusia. Ini juga dipandang sebagai tanda awal dari potensi AI yang tidak dapat dikendalikan. Dalam percobaan tersebut, AI menunjukkan kemampuannya untuk memprogram replika mereka agar melanjutkan proses replikasi tanpa batas, yang berpotensi menimbulkan ancaman jika tidak diawasi dengan ketat.

Dalam penelitian tersebut, AI memulai dengan menjelajahi lingkungan dan menganalisis komponen serta mekanisme operasionalnya sendiri. Selanjutnya, AI menyusun prosedur untuk memulai proses replikasi, yang kemudian dijalankan dengan memecahkan berbagai hambatan yang muncul, seperti file yang hilang atau konflik perangkat lunak. AI bahkan dapat mengatasi masalah tersebut dengan mematikan proses yang mengganggu, merestart sistem, atau mencari informasi untuk memperbaiki kesalahan perangkat keras.

Namun, meskipun studi ini memberikan wawasan baru, penelitian tersebut belum ditinjau oleh sejawat dan perlu verifikasi lebih lanjut. Para ilmuwan mengingatkan agar komunitas internasional segera merumuskan regulasi yang ketat untuk mengantisipasi perkembangan AI yang bisa tidak terkendali. Peneliti berharap temuan ini dapat memicu diskusi lebih lanjut mengenai risiko AI yang semakin canggih dan pentingnya kolaborasi internasional dalam menciptakan regulasi yang tepat.

Paul McCartney Peringatkan Ancaman AI Terhadap Kreativitas dan Hak Cipta Artis

Paul McCartney memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat mengancam keberadaan artis, terutama terkait dengan usulan undang-undang hak cipta yang berpotensi mengurangi insentif bagi penulis dan seniman, serta merusak kreativitas. Dalam wawancara dengan BBC, McCartney mengungkapkan kekhawatirannya bahwa perubahan kebijakan ini akan merugikan artis yang telah menciptakan karya mereka. Menurutnya, materi berhak cipta yang digunakan untuk melatih model AI harus melibatkan hak-hak pencipta, dan keuntungan dari karya mereka seharusnya kembali kepada mereka.

McCartney menyoroti bahwa jika materi berhak cipta digunakan oleh AI tanpa izin, uang yang dihasilkan dari karya tersebut tidak akan sampai ke penciptanya. Dia juga menekankan bahwa tanpa perlindungan yang jelas, akan terjadi ketidakadilan dalam industri kreatif. Penggunaan materi berhak cipta untuk melatih model AI kini tengah menjadi topik konsultasi pemerintah, yang bertujuan mengeksplorasi bagaimana menciptakan regulasi yang adil untuk para kreator.

Sementara itu, beberapa penerbit dan perusahaan media telah mencapai kesepakatan dengan perusahaan AI untuk memberikan izin penggunaan materi mereka untuk melatih model AI. Namun, McCartney mengimbau pemerintah untuk mempertimbangkan kembali kebijakan yang diusulkan, karena hal ini bisa merugikan pencipta karya.

Pada bulan Desember tahun lalu, McCartney juga bergabung dengan sejumlah selebritas lain dalam penandatanganan petisi yang menentang penggunaan karya kreatif tanpa izin untuk melatih AI. Selain itu, McCartney dan Ringo Starr sempat menggunakan teknologi AI untuk memisahkan vokal John Lennon dalam demo lagu dari tahun 1977, sebagai contoh pemanfaatan AI dalam dunia musik.

Pemerintah Inggris kini mengadakan konsultasi hingga 25 Februari untuk membahas cara-cara yang dapat meningkatkan hubungan antara sektor kreatif dan AI, serta bagaimana memberikan kompensasi yang adil kepada para pencipta karya.

Trump Tandatangani Perintah Eksekutif untuk Mengukuhkan Dominasi AS dalam AI dan Kripto

Pada Kamis (23/01/2025), Presiden Donald Trump mengumumkan langkah strategis Amerika Serikat untuk mempertahankan posisi terdepan dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui penandatanganan perintah eksekutif. Mengutip Bloomberg (24/01/2025), perintah ini memerintahkan pembentukan kelompok antarlembaga yang bertugas merancang kebijakan dalam waktu enam bulan untuk mempercepat dominasi AS di bidang AI. Kebijakan ini juga mencabut aturan yang sebelumnya diterapkan oleh Presiden Joe Biden, yang menekankan transparansi dan keselamatan dalam pengembangan AI.

David Sacks, pemodal ventura yang juga calon kepala kebijakan AI dan kripto untuk pemerintahan Trump, menyatakan, “Tujuan kami adalah menjadikan Amerika sebagai pusat dunia dalam AI untuk menguasai dan memimpin industri ini.” Selain fokus pada AI, Trump juga menginisiasi pembentukan kelompok kerja yang dipimpin oleh Sacks untuk mendukung sektor kripto. Kelompok ini bertugas mengeksplorasi penciptaan aset digital dan merancang proposal legislasi yang bertujuan menguatkan posisi AS sebagai pemimpin global dalam mata uang kripto.

Melalui perintah eksekutif ini, Trump bertujuan untuk mendorong investasi dari sektor swasta dengan mempercepat proses perizinan dan melonggarkan regulasi yang ada. Dukungan dari tokoh industri seperti Sacks dan Elon Musk, yang kini menjadi salah satu penasihat Presiden, diharapkan dapat menggerakkan kebijakan ini. Salah satu langkah dalam kebijakan ini adalah menghindari bias ideologis dalam pengembangan AI, yang beberapa alat AI, seperti generator gambar milik Google, telah mendapat kritik atas kecenderungan politik tertentu.

Pada hari pertama masa jabatannya, Trump meluncurkan proyek kemitraan besar bernama Stargate, yang melibatkan SoftBank Group Corp., OpenAI, dan Oracle Corp. untuk membangun infrastruktur pusat data. Proyek ini mendapatkan investasi awal sebesar US$100 miliar dengan rencana ekspansi mencapai US$500 miliar. Meski demikian, proyek Stargate menuai kontroversi, terutama dari Elon Musk, yang mempertanyakan kapasitas pendanaan proyek tersebut. Sam Altman dari OpenAI membantah tuduhan tersebut, sementara Trump merespon dengan santai, mengatakan, “Mereka mengeluarkan uang. Mereka orang-orang kaya, jadi saya rasa mereka punya.”

Langkah agresif Trump dalam bidang AI ini datang saat negara-negara lain, termasuk Uni Eropa, terus menetapkan aturan ketat terkait teknologi baru. Namun, Trump tetap optimis bahwa kebijakan barunya akan menjadikan AS sebagai pusat global inovasi dan investasi di sektor AI dan kripto.

OpenAI Kembali Fokus pada Pengembangan Robotik dengan Perekrutan Staf Baru untuk Mewujudkan Robot Humanoid Serbaguna

Setelah membubarkan divisi robotiknya, OpenAI kini memutuskan untuk menghidupkan kembali tim tersebut dengan melakukan perekrutan tenaga ahli baru. Melalui unggahan di platform X, Caitlin Kalinowski, staf teknis OpenAI, mengungkapkan bahwa perusahaan ini berencana mengembangkan robot dengan rangkaian sensor canggih, yang berfungsi untuk beradaptasi dalam lingkungan dunia nyata yang penuh dinamika.

Kalinowski menambahkan bahwa tim robotik OpenAI akan bekerja pada proyek pembuatan robot serbaguna yang mampu beroperasi dengan kecerdasan yang mirip dengan manusia, serta memiliki fleksibilitas dan kemampuan untuk beradaptasi di berbagai situasi. Dalam pengumumannya, OpenAI juga mencatat rencananya untuk menciptakan sensor baru dan elemen komputasi yang akan disematkan pada robot tersebut, dengan tenaga model AI yang dikembangkan oleh tim internal perusahaan.

Selain itu, deskripsi pekerjaan yang diumumkan menunjukkan bahwa OpenAI sedang mencari tenaga kerja kontrak untuk menguji prototipe robot mereka, yang berpotensi memiliki anggota badan, mencerminkan upaya perusahaan dalam mengembangkan robot humanoid yang lebih canggih.

Belakangan ini, OpenAI juga diketahui tengah mengeksplorasi pengembangan robot humanoidnya sendiri. Seiring dengan meningkatnya minat di sektor robotika, di mana nilai pasar diperkirakan mencapai 6,4 miliar dolar AS pada tahun lalu, sejumlah perusahaan teknologi turut ambil bagian dalam pengembangan robot humanoid. Misalnya, X1 dan Figure, yang berkolaborasi dengan OpenAI, berusaha menciptakan robot yang dapat bergerak dengan cara yang sangat mirip dengan manusia.

Meskipun menghadapi tantangan besar dalam pengembangan ini, perusahaan-perusahaan tersebut optimistis bahwa mereka telah mencapai kemajuan signifikan, dan memproyeksikan bahwa pembuatan robot humanoid secara massal akan menjadi tujuan yang dapat dicapai dalam waktu dekat.

Tiga Saham AI yang Menguntungkan untuk Investasi di 2025!

Kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu tren terbesar dalam teknologi tahun lalu, mengubahnya dari konsep fiksi ilmiah menjadi arus utama yang menarik perhatian banyak perusahaan. Di tengah perkembangan pesat ini, beberapa saham telah menjadi pilihan yang sangat menguntungkan bagi investor yang ingin memanfaatkan potensi AI. Mari kita lihat tiga perusahaan yang berhasil meraih keuntungan besar berkat AI.
Palantir, yang terkenal sebagai penyedia solusi pengumpulan data dan analisis untuk pemerintah AS, telah berhasil mengintegrasikan AI ke dalam teknologi mereka. Mereka tidak hanya fokus pada pengembangan model AI, tetapi juga menciptakan lapisan alur kerja perangkat lunak AI yang meningkatkan fungsionalitas dan logika dalam aplikasi dunia nyata. Solusi AI mereka telah menarik banyak pelanggan komersial, dengan pendapatan komersial AS meningkat 54% dan jumlah pelanggan komersial melonjak 77%. Walaupun kesuksesan ini berawal dari prototipe, Palantir berencana mempercepat pengembangan dan transformasi pelanggan dari bukti konsep ke implementasi produksi.
Namun, valuasi Palantir cukup tinggi, dengan rasio harga-ke-penjualan ke depan sebesar 42 kali, yang dapat menjadi faktor penghalang bagi sebagian investor.

AppLovin, yang terkenal dengan portofolio aplikasi dan solusi adtech-nya, telah meraih keuntungan signifikan melalui teknologi AI. Peluncuran Axon 2 yang didukung AI pada awal 2023 membawa lonjakan pendapatan yang luar biasa. Teknologi pembelajaran mesin prediktif yang digunakan oleh Axon 2 berhasil meningkatkan pengiklanan dalam aplikasi game. Pendapatan platform perangkat lunak mereka melonjak 66%, dengan margin bruto juga meningkat signifikan. AppLovin tidak hanya melihat peluang di industri game, tetapi juga sedang memperluas jangkauannya ke sektor e-commerce, yang dapat menjadi pendorong utama pertumbuhannya pada 2025.
Saham AppLovin diperdagangkan dengan rasio harga-ke-laba (P/E) ke depan sebesar 39,5 dan rasio harga-ke-pertumbuhan (PEG) yang mengindikasikan saham ini undervalued.

Broadcom telah mencatatkan prestasi besar di pasar chip AI dengan merancang chip AI khusus yang dioptimalkan untuk tugas-tugas spesifik. Pendapatan dari chip AI mereka diperkirakan melampaui $12 miliar pada tahun fiskal 2024. Alphabet, Meta Platforms, dan ByteDance menjadi pelanggan utama mereka, dengan rencana untuk mendeploy lebih dari 1 juta cluster chip AI pada tahun 2027. Pertumbuhan pasar chip AI khusus menunjukkan potensi besar bagi Broadcom, yang tampaknya siap untuk meraih keuntungan besar di masa depan.
Saham Broadcom diperdagangkan dengan rasio P/E ke depan sebesar 36,5, yang dianggap wajar mengingat potensi besar di pasar chip AI.

Meskipun Palantir menjadi pilihan populer, tim analis Motley Fool Stock Advisor tidak memasukkan saham ini dalam daftar 10 saham terbaik yang direkomendasikan untuk saat ini. Sebagai referensi, mereka menyarankan untuk mempertimbangkan saham-saham yang lebih berpotensi menghasilkan keuntungan besar dalam beberapa tahun mendatang.

Vitalik Buterin Mengusulkan Regulasi AI Superintelligent untuk Menghindari Ancaman Global

Vitalik Buterin, pendiri Ethereum, menyuarakan kekhawatirannya mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI) superintelligent yang dapat menimbulkan ancaman besar bagi umat manusia. Dalam artikel blog yang diterbitkan pada Januari 2025, Buterin mengajukan usulan strategis mengenai regulasi AI guna memitigasi risiko terkait dengan kecerdasan buatan yang berkembang pesat.

AI superintelligent merujuk pada model AI teoritis yang memiliki kecerdasan jauh melampaui manusia dalam berbagai sektor. Buterin memperkirakan bahwa teknologi semacam itu mungkin akan terwujud dalam lima tahun ke depan dan membawa dampak berbahaya, mulai dari kerusakan besar-besaran hingga hilangnya kontrol manusia atas teknologi tersebut.

Untuk mengatasi potensi bahaya ini, Buterin mengusulkan langkah “soft pause” atau penghentian sementara dalam penggunaan perangkat keras AI skala besar. Dalam proposalnya, Buterin merekomendasikan pengurangan daya komputasi global hingga 99% selama satu hingga dua tahun. Langkah ini bertujuan memberikan waktu kepada umat manusia untuk mempersiapkan diri terhadap potensi ancaman yang ditimbulkan oleh AI superintelligent.

Buterin juga menambahkan bahwa langkah ini harus disertai dengan aturan ketat, seperti kewajiban registrasi perangkat keras AI dan verifikasi lokasi chip. Selain itu, ia menyarankan agar perangkat keras AI hanya dapat beroperasi jika mendapat persetujuan dari badan internasional yang mengawasi, dengan mekanisme yang dapat diverifikasi melalui teknologi blockchain.

Selain “soft pause,” Buterin juga mengusulkan penerapan tanggung jawab hukum yang lebih tegas kepada pengembang, pengguna, dan penyebar teknologi AI. Hal ini bertujuan untuk menekan pihak-pihak terkait agar lebih berhati-hati dalam mengembangkan teknologi yang dapat berisiko tinggi.

Meskipun demikian, Buterin menekankan bahwa ia hanya akan mendorong “soft pause” jika langkah-langkah tanggung jawab hukum terbukti tidak cukup efektif. Ia meyakini bahwa pengurangan daya komputasi sementara dapat menjadi salah satu tindakan pencegahan yang efektif untuk menghindari potensi bencana akibat AI.

Selain itu, Buterin juga membahas bagaimana teknologi cryptocurrency dapat berperan dalam regulasi AI. Ia menyoroti penggunaan blockchain untuk memastikan transparansi dan desentralisasi dalam pengambilan keputusan terkait teknologi AI, yang akan memastikan bahwa keputusan tersebut diambil dengan akuntabilitas kolektif.

Ethereum, sebagai platform blockchain, dapat memainkan peran penting dalam menciptakan sistem yang lebih transparan dan terdesentralisasi, serta mengurangi potensi penyalahgunaan teknologi.

Proposisi ini juga mencerminkan filosofi “defensive accelerationism” (d/acc) yang didukung oleh Buterin, yakni pengembangan teknologi yang hati-hati dan terkontrol untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan.

Mandiri Capital Indonesia Soroti Inovasi Digital di Singapore Fintech Festival 2024

Mandiri Capital Indonesia (MCI), anak perusahaan modal ventura Bank Mandiri, memperkenalkan inovasi layanan digital terbarunya, Livin’ & Kopra, dalam ajang Mandiri Innovation Hub yang digelar bersamaan dengan Singapore Fintech Festival 2024. Acara ini menarik perhatian sejumlah perusahaan global terkemuka, seperti VISA, JP Morgan, dan AI Rudder.

Tri Nugroho, General Manager & Country Head Bank Mandiri Singapore, menjelaskan bahwa Mandiri Innovation Hub bertujuan untuk memperkenalkan inovasi lokal Indonesia ke tingkat regional ASEAN. Sebagai cabang internasional Bank Mandiri yang berbasis di Singapura, mereka berkomitmen mendukung transformasi digital dan memperluas akses terhadap solusi keuangan yang lebih inklusif di pasar Asia Tenggara dan global.

Acara tersebut juga menghadirkan program business matchmaking yang mempertemukan startup-startup di bidang kecerdasan buatan, energi terbarukan, pengelolaan sampah, pendeteksian penipuan, serta pembayaran dan remitansi lintas batas dengan unit-unit bisnis dalam ekosistem Mandiri Group. Program ini memberi kesempatan untuk berbagi wawasan tentang teknologi terbaru yang dapat mempercepat transformasi digital sektor keuangan di Indonesia.

Ronald Simorangkir, CEO Mandiri Capital Indonesia, berharap Mandiri Innovation Hub dapat mempermudah akses layanan perbankan yang lebih inklusif dan menjadikan sektor financial technology lebih maju. Ia juga menambahkan bahwa sesi diskusi panel yang diselenggarakan berfokus pada penerapan kecerdasan buatan dalam sektor keuangan, ekonomi sirkular, dan pengembangan inovasi digital berkelanjutan.

Kevin Wu, CEO AI Rudder, menyatakan bahwa kecerdasan buatan akan memainkan peran penting dalam mendorong digitalisasi sektor keuangan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat global.