Category Archives: Berita Kecerdasan Buatan (AI)

https://mezzojane.com

Alibaba Siapkan Investasi Besar untuk Infrastruktur AI, Targetkan AGI

Alibaba Group Holding Ltd. berencana untuk menginvestasikan lebih dari 380 miliar yuan atau sekitar US$53 miliar dalam pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) selama tiga tahun ke depan. Perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma ini menyatakan bahwa mereka akan mengalokasikan dana lebih besar untuk AI dan komputasi awan dibandingkan dengan dekade terakhir. Alibaba ingin menjadi mitra utama bagi perusahaan yang mengembangkan dan mengimplementasikan AI, seiring meningkatnya kebutuhan daya komputasi dan model AI yang semakin kompleks.

Setelah menghadapi tantangan besar akibat tindakan keras pemerintah pada tahun 2020, Alibaba kini fokus untuk memperbaiki bisnisnya dengan mengalihkan perhatian pada e-commerce dan AI. Eddie Wu, CEO Alibaba, menyebutkan bahwa Artificial General Intelligence (AGI) kini menjadi tujuan utama mereka. Perusahaan seperti OpenAI, Microsoft, dan Alphabet Inc. telah memimpin dalam perlombaan AGI, dengan berbagai perusahaan teknologi besar lainnya, termasuk Meta dan Amazon, juga berinvestasi miliaran dolar untuk mengembangkan pusat data yang mendukung AI.

Namun, di tengah geliat investasi besar ini, Wall Street mulai mempertanyakan apakah permintaan untuk kapasitas pusat data AI tersebut cukup besar. Sebuah perusahaan baru asal China, DeepSeek, telah meluncurkan model AI dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan banyak pesaing besar. Walaupun demikian, para investor tetap memberi apresiasi terhadap ambisi Alibaba untuk bersaing dalam pengembangan AI, khususnya dengan fokusnya pada AGI.

BRIN dan JAEA Bahas Peran Kecerdasan Buatan dalam Teknologi Reaktor Nuklir

Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRTRN BRIN), Topan Setiadipura, menyatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dalam teknologi reaktor nuklir. Topan menjelaskan bahwa PRTRN BRIN memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan teknologi reaktor nuklir dan 12 kelompok penelitian yang mendukungnya. Selain itu, PRTRN BRIN juga aktif berkolaborasi dengan industri internasional, termasuk menjalin hubungan dengan negara-negara seperti Amerika, Jepang, dan Korea.

Menurut Topan, kerja sama dengan peneliti dari lembaga seperti Japan Atomic Energy Agency (JAEA), khususnya dalam pengembangan AI, akan sangat menguntungkan dalam hal teknis serta riset dan pengembangan (R&D). Ia menambahkan bahwa meskipun teknologi reaktor nuklir relatif lambat dalam mengadopsi inovasi terbaru, penerapan teknologi baru secara ilmiah sangat dibutuhkan.

Kunihiko Nabeshima, peneliti dari JAEA, turut berbagi pengalaman terkait dampak kecelakaan Fukushima dan perkembangan terbaru pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Jepang. Dia menjelaskan bahwa AI saat ini memainkan peran besar dalam sektor energi nuklir, seperti membantu mengawasi reaktor dan memberikan informasi kepada operator. Selain itu, AI dapat memberikan rekomendasi penting mengenai tindakan yang harus diambil untuk menjaga keselamatan reaktor.

Dengan adanya perkembangan AI dalam sektor energi nuklir, JAEA berharap dapat melanjutkan kerjasama dengan BRIN untuk meningkatkan sistem investigasi dan teknologi yang telah mereka bangun selama dua dekade terakhir.

Revolusi AI: Peran, Manfaat, dan Masa Depan Kecerdasan Buatan dalam Kehidupan Manusia

Kecerdasan Buatan (AI) telah berkembang menjadi salah satu terobosan teknologi paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Dengan pesatnya kemajuan teknologi dan meningkatnya kapasitas komputasi, AI kini memainkan peran krusial di berbagai bidang kehidupan, mulai dari sektor industri dan kesehatan hingga aktivitas sehari-hari. Keunggulannya dalam meningkatkan efisiensi, meningkatkan akurasi, serta membuka jalan bagi inovasi yang sebelumnya sulit diwujudkan menjadikannya sebagai teknologi yang semakin tak terpisahkan dari kehidupan modern.

AI merupakan cabang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan sistem yang mampu meniru kecerdasan manusia dalam menyelesaikan berbagai tugas, seperti analisis data, pengambilan keputusan, dan pengenalan pola. Pada awalnya, AI hanya digunakan untuk fungsi-fungsi sederhana seperti pengenalan suara dan wajah. Namun, dengan perkembangan metode pembelajaran mesin (machine learning) dan pembelajaran mendalam (deep learning), AI kini mampu menjalankan tugas yang jauh lebih kompleks, termasuk analisis data berskala besar dan pengambilan keputusan berbasis algoritma cerdas.

Dalam dunia kesehatan, AI telah membantu dalam mempercepat dan meningkatkan akurasi diagnosis penyakit, misalnya melalui analisis gambar medis dan pengembangan obat yang lebih efektif. Robot bedah berbasis AI juga telah digunakan dalam prosedur medis untuk meningkatkan presisi dan efisiensi dalam operasi.

Di industri otomotif, AI mendorong perkembangan mobil otonom (self-driving cars) yang diharapkan dapat meningkatkan keselamatan dan mengurangi kemacetan lalu lintas. Selain itu, teknologi AI juga digunakan dalam sistem navigasi dan analisis lalu lintas guna mengoptimalkan perjalanan.

Sektor keuangan turut merasakan dampak besar AI, di mana teknologi ini digunakan untuk menganalisis tren pasar, memprediksi investasi, serta mendeteksi aktivitas penipuan secara real-time. Sementara itu, dalam dunia manufaktur, AI telah mengotomatiskan berbagai proses produksi, meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya operasional, serta memastikan kualitas produk tetap terjaga.

Tak hanya di sektor industri, AI juga telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Asisten virtual seperti Siri, Google Assistant, dan Alexa memanfaatkan AI untuk memahami dan merespons perintah suara, membantu pengguna dalam berbagai tugas, seperti mengatur jadwal, memberikan rekomendasi, hingga mengontrol perangkat rumah pintar.

Keunggulan utama AI terletak pada kemampuannya dalam memproses serta menganalisis data dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih akurat dibandingkan manusia. Hal ini sangat bermanfaat di bidang yang mengandalkan analisis data, seperti riset ilmiah, investasi, dan diagnosis medis.

Masa depan AI sangat menjanjikan, dengan potensi menghadirkan inovasi yang dapat mengatasi tantangan global, seperti perubahan iklim, kelaparan, dan permasalahan kesehatan. AI juga memiliki peluang untuk meningkatkan kreativitas manusia dengan menghadirkan teknologi yang mendukung seni, desain, dan inovasi ilmiah.

Meskipun AI menawarkan banyak manfaat, teknologi ini juga menimbulkan sejumlah tantangan, seperti permasalahan etika, privasi, serta dampaknya terhadap lapangan kerja. Oleh karena itu, diperlukan regulasi dan pengawasan yang bijak agar AI dapat dimanfaatkan secara optimal demi kepentingan umat manusia. Ke depan, AI akan terus berkembang dan beradaptasi, menjadi pilar utama dalam menciptakan dunia yang lebih cerdas, efisien, dan inovatif.

OpenAI Luncurkan Operator, Agen AI Canggih yang Mampu Menyelesaikan Tugas Secara Otomatis

OpenAI resmi merilis Operator, agen kecerdasan buatan (AI) inovatif yang dirancang untuk membantu pengguna menyelesaikan berbagai tugas secara otomatis berdasarkan instruksi yang diberikan. Layanan ini kini tersedia untuk pelanggan ChatGPT Pro di berbagai negara.

Dilansir dari TechCrunch pada Sabtu, Operator kini dapat diakses di negara-negara seperti Australia, Brasil, Kanada, India, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Inggris, dan beberapa wilayah lainnya. OpenAI juga berencana memperluas ketersediaannya ke hampir semua negara yang mendukung ChatGPT, kecuali Uni Eropa, Swiss, Norwegia, Liechtenstein, dan Islandia.

Pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat pada Januari lalu, Operator menawarkan berbagai kemampuan canggih, termasuk pemesanan tiket, reservasi restoran, hingga berbelanja di platform e-commerce. Saat ini, fitur ini hanya tersedia bagi pelanggan ChatGPT Pro dengan biaya langganan 200 dolar AS (sekitar Rp3,2 juta) per bulan.

Operator beroperasi melalui jendela peramban terpisah yang dapat dikontrol pengguna kapan saja. Teknologi ini didukung oleh model Computer-Using Agent (CUA), yang menggabungkan kecerdasan model GPT-4o dengan sistem penalaran tingkat lanjut OpenAI. Dengan demikian, Operator mampu menavigasi menu, menekan tombol, hingga mengisi formulir di situs web layaknya manusia.

Dalam pengembangannya, OpenAI bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar seperti DoorDash, eBay, Instacart, Priceline, StubHub, dan Uber untuk memastikan bahwa layanan ini mematuhi kebijakan masing-masing platform.

Meski dapat menjalankan banyak tugas secara bersamaan, Operator tetap memiliki batas penggunaan harian yang diperbarui secara otomatis. Selain itu, untuk alasan keamanan, AI ini tidak dapat melakukan tugas tertentu seperti mengirim email atau menghapus acara dari kalender pengguna.

Operator juga dapat mengalami kendala saat menghadapi antarmuka yang terlalu rumit, seperti formulir dengan CAPTCHA atau kolom kata sandi. Jika menemui hambatan tersebut, Operator akan meminta pengguna untuk mengambil alih secara manual.

Ke depan, OpenAI berencana memperluas akses Operator ke lebih banyak pelanggan ChatGPT, menghadirkan pengalaman AI yang lebih canggih dan intuitif dalam mendukung produktivitas sehari-hari.

Nubia V70 Series Resmi Hadir di Indonesia, Ponsel AI Canggih untuk Pelajar dengan Harga Terjangkau

Nubia resmi meluncurkan Nubia V70 Series, lini ponsel pintar terbaru yang dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan pelajar dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) canggih.

“Nubia V70 Series hadir untuk membantu pelajar dalam berbagai aktivitas, mulai dari pembelajaran hingga hiburan, dengan kombinasi perangkat keras bertenaga dan perangkat lunak pintar,” ujar Manajer Pemasaran ZTE Mobile Indonesia, Bernadus Agung, dalam acara peluncuran di Jakarta, Kamis.

Tak hanya menawarkan performa tinggi, Nubia V70 Series juga mengusung desain premium yang selaras dengan gaya hidup pelajar masa kini. Seri ini mencakup dua varian, yakni Nubia V70 dan Nubia V70 Design, yang ditenagai chipset Unisoc.

Nubia V70 dibekali RAM hingga 20GB (8GB+12GB) serta penyimpanan internal 256GB, memastikan kelancaran dalam berbagai aktivitas seperti belajar, mengerjakan proyek kreatif, dan bermain gim.

Untuk kebutuhan fotografi, ponsel ini memiliki kamera utama 108MP yang didukung fitur berbasis AI seperti AI Optical Character Recognition, AI Portrait Light, AI Magic Unblur, AI Background Unblur, AI Magic Editor, AI Eraser, AI Organization, AI Storytelling, AI Photo Search, dan AI Face Stickers.

Sementara itu, Nubia V70 Design hadir dengan RAM 16GB (8GB+8GB) dan penyimpanan internal 128GB untuk mendukung multitasking yang lancar serta ruang penyimpanan yang cukup bagi catatan, tugas, dan hiburan.

Menurut Manajer Pemasaran Digital dan Humas ZTE Mobile Indonesia, Maya Arneldy, model ini dilengkapi kamera 50MP nubia AI Camera yang mampu menghasilkan foto berkualitas tinggi, ideal bagi pelajar yang gemar membuat konten.

Kedua varian memiliki layar HD+ berukuran 6,7 inci dengan refresh rate 120Hz, memberikan pengalaman visual yang mulus dan nyaman untuk membaca e-book maupun streaming pelajaran.

Ditenagai baterai berkapasitas 5000mAh dengan dukungan pengisian cepat 33W, perangkat ini diklaim mampu bertahan dari pagi hingga malam untuk mendukung aktivitas belajar sepanjang hari.

Sistem operasi Android 14 menghadirkan optimalisasi terbaru dalam performa dan pengalaman pengguna, sementara dukungan NFC memudahkan transaksi digital secara cepat dan praktis.

Nubia V70 tersedia dalam tiga pilihan warna: Stardust Gray, Sunshine Gold, dan Glacier Green dengan desain Sky-Mirror.

Sedangkan Nubia V70 Design hadir dalam varian warna Stone Gray dengan Sky-Mirror Glass, serta Jade Green & Citrus Orange yang memiliki tekstur kulit.

Untuk harga, Nubia V70 akan dijual secara eksklusif di Shopee mulai 24 Februari hingga 2 Maret 2025 dengan harga perkenalan Rp1.699.000. Setelah periode eksklusif, harga resminya akan menjadi Rp1.799.000 dan tersedia di seluruh platform nubia Official Store.

Sementara itu, Nubia V70 Design akan dijual eksklusif di Tokopedia dalam periode yang sama dengan harga spesial Rp1.449.000. Setelahnya, perangkat ini akan tersedia di nubia Official Store dan toko fisik dengan harga normal Rp1.499.000.

Indonesia Kembangkan AI Lokal, Anak Muda Berbakat Siap Presentasi ke Presiden

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan bahwa pemerintah telah merekrut sejumlah anak muda berbakat di Indonesia untuk mengembangkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) buatan dalam negeri.

“Saat ini, ada beberapa anak muda Indonesia yang telah kami rekrut, dan mereka tengah bekerja mengembangkan AI,” ujar Luhut di Jakarta, Selasa (18/2).

Ia juga menyebutkan bahwa dalam dua pekan ke depan, tim pengembang AI tersebut akan mempresentasikan hasil kerja mereka langsung kepada Presiden RI, Prabowo Subianto.

“Dalam waktu sekitar dua minggu, mereka akan melakukan presentasi kepada Presiden,” tambahnya.

AI yang sedang dikembangkan ini nantinya akan mendukung penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta diharapkan dapat memperkuat digitalisasi di Tanah Air.

“Yang terpenting, dengan adanya digitalisasi ini, Indonesia bisa menjadi negara yang lebih efisien,” jelas Luhut.

Namun, ia juga menyoroti bahwa pengembangan AI memerlukan biaya yang cukup besar karena menggunakan sistem open-source.

Di sisi lain, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini masih dalam proses mengeksplorasi teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memaksimalkan potensinya dalam pengembangan di Indonesia.

Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), menyatakan bahwa pemerintah masih mengkaji perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari inovasi digital di Indonesia. Ia menambahkan bahwa hasil pengembangan AI dari DeepSeek bisa menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk mendukung ekosistem AI dalam negeri. Hal ini disampaikannya saat ditemui di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, pada Senin (17/2).

Pada awal 2025, DeepSeek sempat menggemparkan dunia dengan peluncuran model kecerdasan buatan terbaru mereka, DeepSeek R1. Model AI ini menarik perhatian global karena dapat digunakan secara gratis oleh banyak pengguna.

Namun, startup asal China tersebut menghadapi pelarangan dan pembatasan di beberapa negara karena dianggap berpotensi menimbulkan ancaman terhadap keamanan siber. Negara-negara yang telah membatasi atau melarang penggunaan DeepSeek meliputi Korea Selatan, Italia, Australia, dan Taiwan.

AI Bantu Manusia Memahami Emosi Hewan, dari Anjing hingga Kuda

Para peneliti kini memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk membantu menginterpretasikan emosi yang ditunjukkan oleh hewan. Inovasi ini memungkinkan manusia mendeteksi tanda-tanda rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dialami oleh berbagai spesies.

Menurut laporan TechCrunch pada Minggu (16/2), penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science mengungkap bagaimana AI dapat meningkatkan pemahaman manusia terhadap ekspresi hewan.

Salah satu proyek yang menonjol adalah Intellipig, sistem yang dikembangkan oleh University of the West of England Bristol dan Rural College di Skotlandia. Sistem ini mampu menganalisis foto wajah babi dan memberi tahu peternak jika ada indikasi sakit, stres, atau gangguan emosional lainnya.

Sementara itu, tim peneliti dari University of Haifa telah melatih AI untuk mengenali ekspresi ketidaknyamanan pada anjing. Dengan teknologi pengenalan wajah, mereka dapat mengidentifikasi perubahan raut wajah anjing yang memiliki kesamaan gerakan hingga 38 persen dengan ekspresi manusia.

Tak hanya itu, seorang peneliti dari University of São Paulo juga bereksperimen dengan AI untuk menganalisis ekspresi kuda sebelum dan sesudah operasi, serta setelah diberikan obat penghilang rasa sakit. Fokus utama penelitian ini adalah pada pergerakan mata, telinga, dan mulut kuda untuk mengidentifikasi indikasi rasa sakit. Sistem AI ini menunjukkan tingkat keberhasilan hingga 88 persen dalam mendeteksi ketidaknyamanan pada hewan.

Dengan kemajuan ini, AI berpotensi menjadi alat revolusioner dalam dunia peternakan dan kesejahteraan hewan, membantu manusia lebih memahami bahasa emosi yang selama ini sulit ditafsirkan.

Google Hapus Prinsip “Jangan Berbuat Jahat” dan Tunjukkan Dukungan pada Pengembangan AI Militer

Google baru-baru ini menghapus kalimat “jangan berbuat jahat” yang selama bertahun-tahun menjadi prinsip dasar perusahaan, bersama dengan komitmennya untuk tidak mengembangkan teknologi yang membahayakan atau digunakan untuk pengawasan. Langkah ini muncul dalam pembaruan kebijakan yang dipublikasikan pada halaman “Prinsip-Prinsip Kecerdasan Buatan (AI)” perusahaan.

Pernyataan baru tersebut menegaskan bahwa “dalam lanskap geopolitik yang semakin kompleks, ada kompetisi global untuk memimpin dalam pengembangan AI.” Google berpendapat bahwa negara demokrasi harus memimpin dalam bidang ini, dan penghapusan komitmen sebelumnya dipandang sebagai tanda bahwa perusahaan ini mulai terbuka terhadap penggunaan teknologi AI untuk tujuan militer.

Penggunaan AI dalam peperangan semakin meningkat, dengan teknologi ini diterapkan di medan perang seperti Ukraina dan Gaza. Perusahaan teknologi seperti OpenAI, Meta, dan Anthropic kini memiliki proyek-proyek AI yang bekerja sama dengan militer AS atau kontraktor pertahanan. AI, khususnya dalam penggunaan drone, semakin berperan penting dalam penentuan target dan serangan otonom.

Sejarah hubungan Google dengan militer bukanlah hal baru. Pada 2017, meskipun mengedepankan prinsip “jangan berbuat jahat,” Google terlibat dalam Project Maven, sebuah proyek penargetan militer untuk Departemen Pertahanan AS. Meskipun proyek ini dihentikan setelah protes karyawan, Google kembali terlibat dalam kontrak militer besar lainnya, termasuk Project Nimbus dengan pemerintah Israel. Kontrak ini bernilai $1,2 miliar dan digunakan untuk layanan komputasi awan serta pengawasan dalam konflik di Gaza.

Bagi para pengamat, termasuk peneliti AI Stuart Russell, perubahan kebijakan ini menunjukkan arah baru yang mencemaskan dalam penggunaan AI. “Keputusan ini terjadi bersamaan dengan pemerintahan yang menghapus banyak regulasi tentang AI dan kini lebih fokus pada penggunaan AI untuk tujuan militer,” ujar Russell.

Semakin cepatnya perkembangan AI dan ketakutan akan ketertinggalan teknologi di pasar global semakin mendorong pemerintah dan perusahaan untuk beradaptasi, meskipun hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang etika dan dampak sosial yang lebih besar.

Meta Masuki Era Robotika: Fokus Kembangkan Robot Humanoid untuk Bantu Pekerjaan Rumah

Meta, perusahaan teknologi yang sebelumnya dikenal dengan produk media sosial dan perangkat kerasnya, kini berambisi untuk memimpin inovasi dalam dunia robotika. Perusahaan ini telah membentuk tim baru di bawah divisi Reality Labs yang fokus pada pengembangan robot humanoid, dengan tujuan untuk menciptakan robot serbaguna yang dapat membantu dalam tugas-tugas rumah tangga sehari-hari. Langkah ini menunjukkan ambisi Meta untuk merambah lebih jauh ke sektor teknologi yang berkembang pesat ini.

Tim robotika ini dipimpin oleh March Whitten, seorang profesional berpengalaman yang sebelumnya menjabat sebagai CEO di startup mobil otonom Cruise, serta memiliki pengalaman di perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Microsoft, dan Sonos. Pengalaman Whitten dalam berbagai perusahaan teknologi ini diharapkan dapat membawa Meta lebih dekat pada tujuannya untuk menciptakan robot dengan kemampuan canggih.

Tidak hanya perangkat keras yang akan dikembangkan, tetapi tim ini juga akan fokus pada pengembangan perangkat lunak robotika dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kinerja robot humanoid tersebut. Namun, rencana awal Meta bukanlah untuk merilis robot bermerek mereka sendiri. Sebaliknya, perusahaan ini lebih memilih untuk membangun fondasi perangkat keras yang dapat digunakan di pasar robotika global, serupa dengan pencapaian Google dengan sistem operasi Android di dunia ponsel pintar.

Selain itu, Meta dikabarkan juga sedang melakukan penjajakan kerja sama dengan perusahaan robotika lainnya, seperti Unitree Robotics dan Figure AI, untuk mempercepat pengembangan prototipe robot humanoid dan menjajaki potensi kolaborasi dalam menciptakan teknologi robotika yang lebih maju.

Internet of Things (IoT): Revolusi Teknologi yang Menghubungkan Segalanya

Internet of Things (IoT) adalah konsep di mana berbagai perangkat fisik dapat saling terhubung melalui internet untuk bertukar data secara otomatis. Dengan bantuan sensor, perangkat lunak, dan jaringan, IoT memungkinkan berbagai perangkat, mulai dari smartphone, kamera, mesin industri, hingga peralatan rumah tangga, bekerja secara cerdas dan efisien.

Contohnya, sistem pencahayaan rumah yang bisa menyala otomatis saat mendeteksi kehadiran seseorang, atau sistem pengairan tanaman yang dapat dikendalikan dari jarak jauh melalui aplikasi. Teknologi ini semakin berkembang dan membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan.

Mengapa IoT Menjadi Teknologi yang Penting?

IoT memberikan banyak manfaat yang berkontribusi dalam meningkatkan efisiensi dan kemudahan hidup, baik di dunia industri maupun kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa alasan mengapa IoT menjadi teknologi yang sangat berpengaruh:

  1. Efisiensi Operasional
    IoT membantu perusahaan dalam mengotomatiskan berbagai proses, mengurangi biaya operasional, serta meningkatkan produktivitas.
  2. Keputusan Berbasis Data
    Dengan data yang dikumpulkan dari perangkat IoT, organisasi dapat mengambil keputusan yang lebih akurat dan efektif berdasarkan analisis yang dilakukan.
  3. Kemudahan dan Kenyamanan
    Dalam kehidupan sehari-hari, IoT memberikan kemudahan, seperti mengontrol suhu ruangan dari jarak jauh menggunakan smartphone atau mengelola keamanan rumah dengan sistem smart lock.
  4. Transformasi Bisnis
    IoT membuka peluang inovasi dalam berbagai sektor, mulai dari kendaraan otonom, smart city, hingga industri kesehatan yang lebih terintegrasi.

Mata Kuliah Internet of Things di Telkom University Surabaya

Di era digital ini, pemahaman tentang IoT menjadi keterampilan yang sangat dicari. Oleh karena itu, Telkom University Surabaya menghadirkan mata kuliah IoT dalam program studi Teknik Elektro untuk membekali mahasiswa dengan keahlian yang relevan di dunia industri.

Beberapa materi yang dipelajari dalam mata kuliah ini meliputi:

  • Dasar-Dasar IoT
    Mengenal konsep dan elemen utama dalam sistem IoT, seperti sensor, aktuator, dan protokol komunikasi.
  • Pemrograman Perangkat IoT
    Belajar mengembangkan aplikasi dan perangkat lunak yang digunakan dalam sistem IoT.
  • Sistem Embedded
    Merancang dan mengembangkan perangkat keras yang mendukung teknologi IoT.
  • Analisis Data IoT
    Mengolah data yang diperoleh dari perangkat IoT untuk mendapatkan wawasan yang bermanfaat.
  • Keamanan IoT
    Mempelajari cara melindungi sistem IoT dari ancaman keamanan siber yang semakin kompleks.

Peluang Karir di Bidang IoT

Dengan semakin luasnya penerapan IoT di berbagai industri, peluang karir di bidang ini sangat menjanjikan. Beberapa profesi yang berkaitan dengan IoT di antaranya:

  • IoT Developer – Mengembangkan perangkat lunak dan aplikasi IoT.
  • System Engineer – Merancang dan mengelola sistem IoT di berbagai industri.
  • Data Analyst – Menganalisis data besar (big data) yang dihasilkan oleh perangkat IoT.
  • Cybersecurity Specialist – Mengamankan sistem dan jaringan IoT dari ancaman digital.
  • Product Manager IoT – Mengelola pengembangan produk berbasis IoT di perusahaan teknologi.

Bergabung dengan Revolusi IoT di Telkom University Surabaya

Sebagai salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia, Telkom University Surabaya menghadirkan kurikulum Teknik Elektro yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan teknologi terkini, termasuk di bidang Internet of Things.

Dengan dukungan fasilitas praktikum yang lengkap serta kolaborasi dengan industri, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang komprehensif dan siap bersaing di dunia kerja.

Jangan sampai ketinggalan untuk bergabung dalam transformasi digital ini! Segera daftar dan jadilah bagian dari generasi penerus inovasi di dunia teknologi IoT. Untuk info lebih lanjut, kunjungi situs resmi Teknik Elektro Telkom University Surabaya. 🚀